Jaksa Kembalikan Barang Bukti ke Pemortal Areal PT SCC Setelah MA Putuskan Bebas

  • Oleh Naco
  • 19 Januari 2020 - 12:00 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur mengembalikan barang bukti kepada, Nanang alias Anang Janggai, pemortal areal jalan PT Sinar Citra Cemerlang (PT SCC), setelah Mahkamah Agung atau MA memutuskan bebas. 

"Kita kembalikan barang bukti kepada yang bersangkutan," kata Kepala Kejari Kotim, Hartono melalui Kasi Pidana Umum, Teguh Fidya Wahyudi, Minggu,19 Januari 2020.

Putusan MA itu menguatkan putusan PT, setelah Anang pada pengadilan tingkat pertama divonis bersalah selama 1,5 tahun penjara sebagaimana tuntutan jaksa.

Anang banding. Pengadilan Tinggi kemudian menyatakan perbuatannya bukan ranah pidana. 

Anang berurusan dengan hukum atas perbuatan pada Sabtu, 30 Juli 2016 sekitar pukul 11.00 WIB di areal HGU (Hak Guna Usaha) PT SCC yaitu di jalan utama dan areal tanaman blok E10 divisi III, perkebunan kelapa sawit, Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Awalnya, Anang memiliki tanah yang diklaim sekitat 15 Ha yang pada tanggal 23 Februari 2008 telah diproses Ganti Rugi Tanam Tumbuh (GRTT) oleh PT SCC.

Dari total luas lahan tersebut berdasarkan hasil inventarisasi dokumen dan analisa yang dilakukan oleh PT SCC, tidak hanya dimilikinya namun juga sejumlah saksi. Setelah dilakukan pengkuran, total lahan yang dimiliki Anang seluas 11 Ha.

Selanjutnya, dilakukan overlay untuk memastikan luas areal yang telah diganti rugi oleh PT SCC. Setelah semua proses selesai, dilakukan pembayaran ganti rugi pembebasan lahan oleh PT SCC kepada Anang sebesar Rp. 20.000.000, yang diserahkan oleh Anita Sri Lestari Panjaitan (Kepala Tata Usaha) disaksikan oleh lwan Putra (Manager GA), Dim (Humas), Isnawati (Admin).

Pada Sabtu 30 Juli 2016, Anang melakukan pemortalan jalan menuju pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT SCC menggunakan kayu dibentangkan di tengah jalan kurang lebih 2 meter. Selanjutnya, tidak jauh dari portal, Anang menanam 27 pohon kelapa sawit.

Maksud Anang tersebut yakni karena merasa masih berhak atas tanah seluas 15 Ha dan agar PT SCC melakukan ganti rugi atas tanah tersebut. Namun, berdasarkan dokumen ganti rugi dan hasil pengukuran yang dilakukan oleh saksi ahli Septian Hadi dari kantor pertanahan disaksikan pihak penyidik Ditreskrimsus Polda Kalteng, Anang, pihak PT SCC dan pihak Kades Bukit Raya pada tanggal 23 Maret 2017 sekitar pukul 13.00 WIB menyatakan bahwa areal itu masuk HGU perusahaan. (NACO/B-7)

Berita Terbaru