Aplikasi Pilkada / Software Pilkada Terbaik Untuk memenangkan Pilkada 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Sempat Diremehkan, Pembudidaya Madu Kelulut di Barito Timur Nikmati Manisnya Hasil

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 02 Februari 2020 - 17:20 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Zakaria Gatno, 45, warga RT 01 Desa Dorong, Kecamatan Dusun Timur memulai budidaya lebah kelulut (Triggona Itama) pada 2018 silam. Di awal usahanya, ia sering diremehkan sejumlah orang karena menekuni usaha yang tidak lazim. Namun kini, Zakaria sudah menikmati manisnya penghasilan dari madu kelulut.

"Sekitar bulan Juli 2018 saya nonton youtube tentang budidaya madu kelulut, saya lihat ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari ini," kata Zakaria mengawali perbincangan, Minggu, 2 Februari 2020.

Menurutnya, awal memulai usaha ini sering diremehkan orang-orang di sekitar dan dianggap aneh. Sebab, mencoba beternak lebah kelulut liar yang diambil dari hutan. Lebah kelulut tidak seperti lebah tawon ukuran tubuhnya lebih kecil dan mirip lalat, lebah ini biasa bersarang di dalam batang-batang pohon dan tidak menyengat.

"Kalau mau menyerah, dari dulu saya sudah menyerah saya jadi bahan olok-olok orang. Bahkan, ada yang menyebut saya beruang madu," kisah Zakaria.

Walau sering gagal, dia terus mempelajari cara yang paling baik agar kelulut liar tersebut bisa berkembang biak dan menghasilkan madu. Setelah satu setengah tahun, Zakaria sudah memiliki sekitar 180 kotak budidaya kelulut dan yang menghasilkan madu ada 50 kotak.

Kotak budidaya madu ditempatkan Zakaria di bawah pohon-pohon karet di sekitar rumah. Ada juga sebagian yang digantung di dinding rumah.

Dia mengatakan, saat panen setiap kotak kelulut menghasilkan madu sekitar 200 mililiter, panen biasa dilakukan tiap satu setengah bulan. Hasil panen madu kelulut dijual seharga Rp 300 ribu per liter, atau dikemas dalam botol kecil ukuran 200 mililiter dan dijual dengan harga Rp60 ribu per botol.

Zakaria melihat potensi usaha madu kelulut cukup bagus, karena itu ia ingin terus mengembangkan peternakan lebah kelulutnya walau saat ini masih mengalami kendala pemasaran.

"Untuk pemasaran secara luas kami masih kesulitan karena belum ada yang membantu memasarkan, kalaupun ada yang memesan untuk dijual lagi itu tidak rutin," imbuhnya.

Madu kelulut yang dijual Zakaria biasanya dikemas menggunakan botol minuman ringan. Sehingga membuat tampilan produk madunya kurang menarik dan layak untuk dijual secara luas.

"Saya kurang paham dimana harus memesan botol kemasan yang baru dan cara mengemas yang baik supaya madu ini bisa dijual secara luas, mudah-mudahan ada yang bisa membantu," pungkas Zakaria. (BOLE MALO/B-11)

Berita Terbaru