Tegaskan Bukan Tindakan Anggota Mereka, PSHT Parluh 2016 Tidak Mau Ikut Dirugikan

  • Oleh Naco
  • 14 Februari 2020 - 19:40 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Kotawaringin Timur yang diketuai Hardi berharap mereka tidak ikut dikorbankan dalam persoalan PSHT yang diketuai Susanto.

Menurutnya mereka adalah pengurus PSHT dari kubu pengurus pusat yang diketuai HM Taufik Parapatan Luhur (Parluh) 2016. Sementara kubu Susanto, Parluh 2017 atau pecahan kubu Taufik. Sehingga dirinya mengakui kalau pengurusan di Kotim memang dualisme.

"Kami berharap keputusan yang diambil tidak merugikan kami. Dan saya yakin masyarakat Kotim bisa menilai dan memahami. Kalau kebenaran itu akan tetap benar, begitu juga keburukan," ucapnya.

Dia juga mengatakan tindakan penganiayaan yang dilakukan itu bukan ajaran dari PSHT. Karena PSHT selalu mengajarkan etika kepada kepada persaudaraannya.

Namun demikian bagi Hardi tindakan yang dilakukan 8 oknum anggota Susanto itu tidak membuat terkejut bagi kepengurusan mereka. Karena mereka juga mengaku sering mendapat perlakuan seperti itu.

"Saay latihan di Bagendang kami juga diserang mereka dan kami dibubarkan. Begitu juga di Katingan, Kota Besi, Antang Kalang. Gayanya premanisme," tegasnya.

Bahkan modusnya sama seperti yang mereka lakukan dengan korban pengeroyokan, yakni diminta tanda tangan surat pernyataan yang isinya agar bergabung dengan kelompok PSHT mereka atau jika tidak segala kegiatan akan berhadapan dengan mereka.

"Kita semia ada bukti-bukti intimidasi mereka itu," ucap anggota pengurus lainnya.

Terpisah, Susanto saat di markas Fordayak Kotim di Taman Miniatur Budaya Sampit mengaku salah atas tindakan oknum anggotanya itu, dan menyatakan mereka tidak pernah mengajarkan tindakan semacam itu.

"Saya mohon maaf kepada keluarga korban, masyarakat Kotim, Kalteng dan Indonesia atas permasalahan ini," tandasnya. (NACO/B-11)

Berita Terbaru