Sebar Hoax, Warga Desa Melata yang Ngaku Wartawan Ahirnya Minta Maaf di Polres Lamandau

  • Oleh Hendi Nurfalah
  • 21 Februari 2020 - 19:11 WIB

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pria berinisial H warga Desa Melata, Kecamatan Menthobi Raya, Kabupaten Lamandau akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas postingannya di media sosial Facebook yang memuat foto pamflet tentang waspada penculikan anak yang ternyata hoax.

Polres Lamandau akhirnya melakukan pembinaan kepada H yang mengku sebagai pemilik akun Facebook dengan nama Jhons Heru Kalteng dengan memanggilnya ke mapolres, Jumat 21 Februari 2020 siang.

Kepada polisi, pria ini  juga mengaku berprofesi sebagai wartawan tabloid bulanan binaan Mabes Polri.

Adapun isi dari unggahannya berupa pamplet atau selebaran dari Polresta Sidoarjo yang berbunyi “Waspada Penculikan Anak 1 - 12 Tahun. Bagi Ibu2, Bapak2 yg memiliki, putra - putri yg masih kecil, alangkah baiknya kita waspada. Penculik anak ada di sekolah, perumahan dan kampung-kampung dengan menyamar sebagai penjual, pengemis, ibu hamil, orang gila dan lain-lain".

Padahal faktanya menurut Polres Lamandau, Polresta Sidoarjo tidak pernah membuat dan mengeluarkan pamflet atau selebaran tersebut.

Kapolres Lamandau AKBP Titis Bangun melalui Kabagops Kompol Harman Subarkah mengatakan polisi telah melakukan pembinaan dan teguran keras kepada yang bersangkutan agar tidak menyebarkan hoaks di media sosial.

”Saudara H kami minta membuat surat pernyataan serta menyampaikan testimoni permohonan maaf dan tidak mengulangi perbuatannya serta bijak dalam bermedia sosial,” jelasnya.

Kabagops juga mengimbau warganet khususnya masyarakat Lamandau agar bijak bermedia sosial dan mengajak masyarakat jangan sampai mengunggah atau ikut menyebarkan berita dan informasi yang sumbernya tidak berdasar atau bahkan hoax.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lamandau, Hendi Nurfalah memastikan pria berinisal H ini tidak tercatat sebagai anggota PWI.

"Bisa kami pastikan yang bersangkutan bukanlah anggota PWI. Kami juga sangat menyayangkan jika hal semacam ini bisa terjadi," katanya.

Hendi berharap semua pihak senantiasa berhati-hati dan bijak dalam menggunakan medsos, karena sekalipun tujuannya baik tapi jika sumber yang disebarkan itu tidak benar tentu akan menjadi problem.

"Mari kita sama-sama belajar bijak dalam bermedsos, sehingga kemudahan informasi tidak justru menjadi masalah. Biasakan cek kebenaran informasi sebelum share," ajaknya. (HENDI NURFALAH/B-6)

Berita Terbaru