Bank Indonesia Sebut Kerugian akibat Banjir Jakarta Awal Tahun Ini Capai Rp 960 Miliar

  • Oleh Teras.id
  • 29 Februari 2020 - 12:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Hamid Ponco Wibowo menyebut kerugian imbas banjir besar di Ibu Kota pada awal tahun baru 2020 mencapai Rp 960 miliar. Angka kerugian banjir tersebut jauh lebih rendah ketimbang banjir besar sejak 2002.

"Kerugian banjir tahun ini jauh lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya," kata Ponco saat memaparkan data ekonomi DKI di Rumah Makan Penang Bistro, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Februari 2020. "Padahal hujannya jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya."

Sejak kanal banjir timur dibangun pada Juli 2003, wilayah terdampak banjir Jakarta mulai menurun. Namun program Pengendalian Banjir Sungai Ciliwung itu tersendat pada era pemerintahan Gubernur Anies Baswedan. Upaya normalisasi Daerah Aliran Sungai Ciliwung itu baru terealisasi 16 kilometer dari rencana keseluruhan 33 kilometer. 

Kerugian banjir pada tahun-tahun sebelumnya selalu menyentuh angka triliunan rupiah. Banjir pada Februari 2002 mencapai kerugian Rp 9,8 triliun, Februari 2007 mencapai Rp 8,8 triliun, Januari 2013 menyentuh Rp 1,5 triliun, dan Februari 2015 mencapai Rp 1,5 triliun.

Curah hujan pada banjir besar awal tahun 2020 mencapai 377 milimeter per hari, 2015 mencapai 277, 2013 mencapai 100, 2007 mencapai 340 dan 2002 mencapai 168 milimeter per hari.


"Tahun ini termasuk kerugian yang paling rendah. Mungkin teknologi (penanggulangan banjir) juga sudah berubah," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI itu. "Padahal curah hujannya yang paling tinggi."

Menurut dia, kerugian banjir tahun ini jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya karena banjir surut lebih cepat. Banjir besar awal tahun ini surut dalam empat hari. Banjir besar tahun 2002 surut dalam waktu enam hari, 2007 sepuluh hari, 2013 tujuh hari dan 2015 tujuh hari.

Banjir di Ibu Kota, kata dia, membuat kerugian di sektor perdagangan, transportasi, pergudangan, jasa keuangan, pengadaan listrik dan gas. Sektor lainnya yang didera kerugian adalah ritel karena usaha mereka tutup selama banjir. "Data kerugian kami peroleh dari asosiasi," ucapnya.

TERAS.ID

Berita Terbaru