Benarkah Ada Pengaruh Cuaca pada Virus Corona Cek Jawaban Pakar

  • Oleh Teras.id
  • 04 April 2020 - 23:40 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Kontroversi dan informasi simpang siur mengenai kaitan virus corona dan cuaca terus bergulir. Sejumlah informasi mengatakan faktor iklim menjadi keuntungan tersendiri bagi negara-negara yang memiliki temperatur dan kelembaban tinggi seperti Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19, dibarengi dengan jaga jarak sosial.

Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Umum dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Yodi Mahendradhata menyebut ada studi-studi yang mengindikasikan bahwa suhu dan kelembaban tinggi mungkin dapat mengurangi penularan virus corona. Namun, faktor-faktor lain tetap lebih berperan dalam penularan.

“Namun, saya ingin menekankan salah satu faktor utamanya tetaplah kedisplinan masyarakat untuk melakukan social atau physical distancing,” ujar Yodi.

Lalu, sebuah penelitian oleh Wang Jingyuan profesor di Sekolah Ilmu dan Teknik Komputer Universitas Beihang, Beijing, menjelaskan bahwa mirip dengan virus influenza, virus corona cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara yang dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan host immunity seseorang dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.

Lebih lanjut, studi dari Melanie Bannister-Tyrrell, seorang konsultan senior di Ausvet, menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah, yaitu sekitar 1-9 derajat celcius. Artinya, semakin tinggi temperatur, maka dugaan adanya kasus COVID-19 harian semakin rendah.

Sementara, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, mengatakan dari kajian sejumlah ahli menyebut pengaruh cuaca dan iklim terhadap tumbuh kembang virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Rita mengatakan BMKG mengkaji variabel tumbuh kembang virus corona dengan cuaca dan iklim bersama 11 doktor meteorologi, klimatologi, matematika, beserta ilmuwan kedokteran, mikrobiologi, kesehatan, dan pakar lain.

Dwikorita pun menyampaikan masyarakat harusnya bisa memanfaatkan keuntungan iklim tropis ini untuk memperkuat imunitas di bawah matahari pada jam yang tepat. Sependapat, Yodi juga menyebutkan berjemur sinar matahari pada jam tertentu bukan berarti mematikan virus namun hal tersebut dapat membantu meningkatkan imunitas.

TERAS.ID

Berita Terbaru