Saat Wabah, Restoran Bintang Michelin Ini Jadi Dapur Umum

  • Oleh Teras.id
  • 05 April 2020 - 23:59 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Eleven Madison Park salah satu restoran elite di New York City, sekaligus restoran bintang Michelin menjelma menjadi dapur umum. Kebijakan tersebut diambil pihak restoran, untuk membantu memberi makan petugas kesehatan dan penduduk New York yang membutuhkan.

Mereka bekerja sama dengan ReThink, sebuah organisasi nirlaba yang mengambil kelebihan makanan dari toko kelontong dan restoran, untuk diubah menjadi makanan siap saji. Tentu, kehadiran restoran bintang Michelin menjadi kabar bagus, untuk membantu meringankan beban warga New York.

Eleven Madison Park menyediakan antara 1.000 dan 3.000 makanan sehari untuk orang-orang yang membutuhkan. Hal itu dilakukan karena bank makanan dan dapur umum, banyak yang tutup karena khawatir merebaknya virus corona.

"Saya percaya badai masih akan datang, dan akan terjadi untuk beberapa waktu, dan jika kami dapat melakukan sedikit saja, hari-hari gelap ini bisa menjadi sedikit lebih cerah," ujar Daniel Humm, seorang koki dan pemilik Eleven Madison Park.

Menurut Humm, untuk menyediakan ribuan makanan itu, Eleven Madiosn Park bekerja sama dengan American Express dan Resy. Humm mengatakan kepada New York Times, bahwa timnya yang terdiri dari 12 koki membuat sekitar 1.000 makanan sehari dan berharap dapat meningkatkan produksi mereka menjadi 3.000 sehari. Setiap makanan menelan biaya US$5 hingga US$6.  

Menurut CNN, hidangan yang keluar dari dapur Eleven Madison Park termasuk nasi ayam dengan kembang kol panggang, pipi sapi muda direbus dengan wortel dan couscous, dan pasta dengan saus romesco.

Pendiri ReThink, Matt Jozwiak mengatakan kepada The Times bahwa inisiatif Eleven Madison Park hanyalah salah satu dari sekian banyak kerja sama. Mereka juga memulai Program Respons Restoran, yang memberikan restoran hingga US$50.000 untuk memasak bagi warga New York yang membutuhkan.

Pada akhir April, Jozwiak berencana untuk menyediakan 8.000 hingga 10.000 makanan sehari kepada orang-orang di seluruh New York.

"Martabat adalah sesuatu yang saya khawatirkan akan hilang dalam kesibukan orang untuk mendapatkan makanan," kata Jozwiak kepada The Times. (TERAS.ID)

Berita Terbaru