Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Pasaman Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Terungkap, Penyebab Amerika Salah Uji COVID-19 di Awal Pandemi

  • Oleh Teras.id
  • 20 April 2020 - 09:30 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Kontaminasi di laboratorium utama milik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat di Atlanta berada di balik keterlambatan produksi alat uji atau test kit virus corona COVID-19 di negara itu. Liputan investigasi Washington Post yang diterbitkan 18 April 2020 tersebut mengungkapkan kalau fasilitas pembuat alat uji itu menyalahi praktik manufaktur.

“Hasilnya, kontaminasi terjadi di satu dari tiga komponen uji yang digunakan dalam proses deteksi yang sangat sensitif,” kata peneliti atau ahli yang tahu tentang masalah itu.

Permasalahan dengan alat uji cepat dalam mendeteksi penularan COVID-19 di awal terjadinya pandemi pertama kali mengemuka pada akhir Januari 2020 lalu. Saat itu, CDC mengirim sejumlah hasil pemeriksaan sampel ke 26 laboratorium kesehatan publik di Amerika, dan 24 di antaranya menemukan adanya hasil positif COVID-19 yang palsu.

Badan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat menyimpulkan kalau CDC telah menyalahi standar laboratoriumnya sendiri dalam proses produksi, menyebabkan sampel uji terkontaminasi. Sekalipun ditulis Washington Post bahwa segmen yang terkontaminasi tidak kritikal dalam deteksi virus corona, CDC butuh lebih dari sebulan untuk memperbaiki kerja alat uji dan bisa memulai lagi dari awal proses pengujian massal dan deteksi virus.

Saat itu, Amerika sudah semakin terpuruk dengan jumlah kasus infeksi dan kematian dari virus tersebut yang cukup tinggi. Kekacauan proses di laboratorium itu juga menyebabkan kemunduran Amerika dalam pengembangan pemeriksaan sampel dan distribusinya sementara wabah terus meluas ke seluruh Amerika.

Hasilnya kini adalah Amerika menyumbang jumlah kasus infeksi dan kematian dari COVID-19 yang terbesar di dunia. Dari hampir 2,4 juta kasus infeksi global per hari ini, Amerika menyumbang lebih dari 760 ribu. Sedang angka kematiannya, 40 ribu dari total 164 ribu di dunia.

Sejumlah ahli mengatakan kepada Washington Post bahwa kedekatan campuran kimia dan material virus corona sintetik di laboratorium yang sama di mana alat uji sedang dibuat melanggar prosedur yang telah disepakati bersama.

Juru bicara CDC, Benjamin N. Haynes, mengakui telah terjadi kualitas kontrol di bawah standar dalam proses pembuatan alat uji. Namun dia tidak menegaskan adanya kontaminasi. Haynes hanya menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi terlebih di situasi pandemi.

"CDC telah menerapkan peningkatan kualitas kontrol untuk mengatasi masalah itu," katanya. 

Washington Post menyatakan yang pertama mendapatkan konfirmasi tentang adanya kontaminasi di laboratorium CDC hingga upaya penanggulangan wabah COVID-19 di negeri itu berantakan. Namun harian Wall Stret Journal telah melaporkan pada Maret adanya email yang mendetilkan bagaimana cerobohnya CDC dalam pengembangan alat uji COVID-19.

Ditulis Wall Street Journal, CDC salah mendeteksi virus corona dalam sampel air di laboratorium. Email mengatakan beberapa laboratorium menemukan, 'reaktivitas sporadis dalam kontrol negatif di satu dari tiga komponen.' Itu berujung kepada CDC harus mengganti alat-alat uji yang sudah dikirim ke laboratorium-laboratorium penguji.

(TERAS.ID)

Berita Terbaru