Roket Cina Jatuh ke Bumi Tidak Terkendali

  • Oleh Teras.id
  • 13 Mei 2020 - 07:31 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Tubuh roket Cina menjadi bagian dari sampah antariksa terbesar dalam beberapa dekade. Tubuh roket itu jatuh tidak terkendali saat kembali ke Bumi pada hari Senin, 11 Mei 2020.

Pada 5 Mei, roket Long March-5B meluncurkan sebuah prototipe kapsul berawak yang menyerupai SpaceX Crew Dragon untuk mengorbit dalam sebuah pengujian.

Setelah hampir 1 Minggu mengorbit Bumi, tahap inti dari roket besar itu kembali memasuki atmosfer kita. Tampaknya ada bagian yang tidak sepenuhnya terbakar telah sampai ke permukaan Bumi, dan kemungkinan jatuh ke Samudra Atlantik di lepas pantai Afrika Barat, menurut militer AS.

"Ini adalah objek paling masif yang masuk kembali ke Bumi secara tidak terkendali sejak Salyut-7 pada tahun 1991 seberat 39 ton," tulis Jonathan McDowell, astrofisikawan Harvard terkemuka yang melacak objek itu di orbit, di Twitter.

Militer, Aeroscope Corporation dan lainnya sedang melacak roket seberat 37.000 pound itu ketika orbitnya mulai keliru beberapa hari yang lalu menuju kobaran api yang tak terhindarkan.

Badan roket itu lebih masif daripada stasiun ruang angkasa Tiangong-1 Tiongkok yang jatuh kembali ke Bumi (mungkin mendarat di suatu tempat di lautan) pada tahun 2018. Itu sekitar seperlima massa Skylab, yang kembali ke Bumi dekat Perth, Australia, pada 1979.

Sebagian besar roket diperkirakan terbakar, tetapi potongan-potongan kecil bisa sampai ke permukaan Bumi. Roket yang kembali ke Bumi terkenal sulit diprediksi, karena objek bergerak dengan kecepatan ribuan mil per jam.

Ketika pecah, puing-puing yang jatuh dapat tersebar lebih dari ratusan atau ribuan mil. Sejauh ini belum ada laporan saksi mata tentang roket yang pecah di langit atau puing-puing di permukaan.

Seringkali, kendaraan ruang angkasa yang lebih besar dilengkapi dengan sarana untuk mengarahkan pesawat untuk masuk kembali ke lokasi yang aman (biasanya Pasifik Selatan), tetapi tampaknya tidak demikian halnya dengan roket ini.

Roket bekas, yang diberi label CZ-5B oleh lembaga melacaknya, mengorbit sekitar 41 derajat posisi utara dan selatan. Itu berarti setiap bit yang berhasil sampai ke permukaan mendarat di suatu tempat dalam kisaran itu, yang meliputi New York di utara, Australia di selatan dan segala sesuatu di antaranya.

Informasi terbaru dari militer itu memungkinkan sebagian besar roket terbakar atau berakhir di lautan.

Berita Terbaru