Puing 18 Ton Roket Raksasa Cina Jatuh di Samudera Atlantik

  • Oleh Teras.id
  • 14 Mei 2020 - 12:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Potongan roket Cina seberat 18 ton dikabarkan jauh di Samudera Atlantik, tak jauh dari pantai barat Mauritania di Afrika Barat, Senin 11 Mei 2020.

Kecemasan sempat melanda karena bagian inti dari roket Long March 5B yang meluncur ke antariksa pada 5 Mei 2020 tersebut jatuh tak terkendali dan di luar perencanaan.

Jonathan McDowell, astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan, bagian roket yang panjangnya 93 kaki dan berbobot 17,8 ton itu adalah objek paling massif yang jatuh tak terkendali dari orbit dalam beberapa dekade.

"Penurunan tak terkendali obyek besar dari orbit terakhir kali adalah seberat 39 ton, asal Salyut-7, pada 1991," katanya, Selasa, 12 Mei 2020.

Roket Long March Cina CZ-5B digunakan Cina untuk meluncurkan kapsul kargo dan pesawat ulang alik generasi baru yang dirancang untuk misi astronot ke bulan.

Jatuhnya roket itu dikonfirmasi oleh Space Control Squadron ke-18, sebuah unit Angkatan Udara Amerika Serikat yang melacak puing-puing ruang angkasa di orbit Bumi.

Unit itu mengatakan, tidak hanya ukuran roket yang membuatnya penting. Tapi juga sejauh mana jendela (waktu) penurunannya yang tidak terkendali.

Penurunan yang tidak terkendali ini membuat mereka harus melacak di mana akhirnya akan benda itu menumbuk Bumi. Spekulasi sebelumnya menduganya di lautan atau di darat di Afrika, Amerika, atau Australia.

Belakangan didapati di perairan pantai barat Mauritania, setelah terbang di atas Los Angeles dan New York, Amerika Serikat. Diluncurkan dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di Provinsi Hainan, Cina, pada 5 Mei, roket itu hanya menghabiskan beberapa hari di orbit sebelum jatuh lagi ke Bumi.

Peristiwanya disebut penurunam tidak terkendali karena terjadi di luar yang direncanakan. "Saya belum pernah melihat yang masuk kembali secara langsung melewati begitu banyak kota besar," kata McDowell kepada CNN.

Berita Terbaru