Usai Lockdown, Inilah yang Dijumpai Para Turis di Bandara

  • Oleh Tempo.co
  • 23 Mei 2020 - 07:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Usai Covid-19, kesan pertama di bandara internasional adalah turis tak bakal menemukan lagi layanan seperti tahun 2019 atau awal 2020. Pasalnya, persinggungan dengan staf bandara akan sangat minimal.

Dinukil dari CNN Travel, robot-robot bakal jadi pembersih bandara menggantikan tim cleaning service. Mereka berpatroli mendisinfeksi konter check-in dan kios tiket. Para penumpang melaju melalui pos pemeriksaan keamanan dan bagasi tanpa menyentuh apa pun.

Dan yang paling canggih, sensor mata dan tangan bakal digunakan untuk membuka bagasi di atas kepala dan menavigasi layar hiburan dalam penerbangan. Semuanya bisa menjadi bebas sentuhan. Jas pramugari pun bergaya hazmat.

Sebagian besar dari konsep-konsep ini sedang diuji coba tetapi bisa segera berubah menjadi kenyataan. Bandara Hong Kong telah memperkenalkan gerbang biometrik. Lalu pemindai tubuh di bandara Amerika Serikat memungkinkan proses check-in dan boarding tanpa melalui staf bandara.

"Saya membuat asumsi, dan saya pikir banyak klien kami membuat asumsi, bahwa pada titik tertentu pada 2021, sudah sangat di belakang kita," kata Alex Dichter, mitra senior di McKinsey & Company, kepada CNN Travel.

Dichter menunjukkan langkah-langkah ketat yang diterapkan di Cina yang mensyaratkan validasi bahwa penumpang bebas Covid 19, menggunakan sistem kode QR yang berwarna hijau, kuning atau merah. Hijau berarti mereka telah diuji dan bebas dari virus, dan pihak berwenang tahu persis status penumpang.


Kode QR yang digunakan Cina lebih ringkas, ketimbang harus terus-menerus memeriksa suhu penumpang. Lalu berujung menandatangani formulir. Data dan pelacakan adalah kunci untuk kembali ke langit. Kode QR menjadi solusi.

Perdebatan Kursi Tengah

Bila kode QR memberi kemudahan dalam mengontrol penumpang, mengapa harus mengosongkan kursi tengah. Business traveler mungkin suka kesendirian, tapi mengosongkan kursi tengah bisa meningkatkan harga tiket pesawat 30 hingga 50 persen lebih mahal. 

International Air Transport Association (IATA) mengeluarkan pernyataan resmi pada 5 Mei, untuk menghalangi pemblokiran kursi tengah di pesawat. Sebagai gantinya, IATA merekomendasikan penumpang dan awak pesawat menggunakan masker wajah.


TAGS:

Berita Terbaru