Amerika Blacklist 30 Institusi dan Perusahaan Asal Cina

  • Oleh Teras.id
  • 23 Mei 2020 - 20:51 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Perseturuan Cina dan Amerika belum usai. Perkembangan terbaru, Amerika memasukkan 33 perusahaan Cina dalam daftar hitam.

Penyebabnya, karena mereka terlibat dalam operasi mata-mata Uighur atau pengembangan senjata pemusnah massal untuk militer Cina.

"Mereka telah mendukung Cina dalam melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Cina telah bertindak represif, tidak adil, dan menerapkan pengawasan berteknologi canggih terhadap komunitas Uighur," ujar Departemen Perdagangan Amerika sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Sabtu, 23 Mei 2020.

Ada berbagai jenis perusahaan yang masuk ke dalam daftar hitam. Beberapa di antaranya perusahaan komersil, perusahaan milik negara, serta penyedia teknologi militer seperti kecerdasan buatan dan pemindai wajah.

Salah satu contoh perusahaan dari daftar tersebut adalah NetPosa. NetPosa adalah pengembang kecerdasan buatan (AI) yang teknologi pemindai wajahnya digunakan Cina untuk mengawasi komunitas muslim Uighur.

Selain NetPosa, ada juga CloudMinds, perusahaan pengembang komputasi awan yang masuk ke dalam portofolio Softbank Group. Dalam keterangan Departemen Perdagangan Amerika, CloudMinds masuk ke dalam daftar hitam karena melakukan transfer teknologi dari Amerika ke Cina.

Qihoo360, yang sempat menjadi sorotan karena menuduh CIA telah meretas Pemerintah Cina, juga masuk dalam daftar terlarang.

Walau tidak disebutkan secara detil apa alasannya, diduga kuat hal itu berkaitan dengan klaimnya soal peretasan oleh CIA.

NetPosa, CloudMinds, maupun Qihoo belum memberikan komentar hingga berita ini ditulis. Xilink, yang menggarap chip untuk perusahaan-perusahaan teknologi Cina, membenarkan soal adanya blacklisting dari Departemen Perdagangan Amerika.

Perusahaan yang berbasis di San Jose itu mengetahuinya setelah klien mereka masuk dalam daftar hitam Amerika.

Berita Terbaru