Pegiat Usaha Perunggasan Bukan Keberatan Melakukan Tes Covid-19

  • Oleh Testi Priscilla
  • 28 Mei 2020 - 14:10 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Perhimpunan Perunggasan Indonesia atau Pinsar Provinsi Kalimantan Tengah, Andi Bustan menegaskan bahwa pegiat usaha perunggasan bukannya keberatan melakukan tes Covid-19. Hanya saja terkait biaya dalam sekali melakukan tes tersebut.

"Pada dasarnya semua pegiat usaha yang berkaitan dengan perunggasan tidak keberatan melakukan rapid test, namun mereka merasa terbebani dengan biayanya yang tinggi namun dengan waktu berlaku yang sangat singkat, hanya 1 minggu," kata Andi, Kamis, 28 Mei 2020.

Menurut Andi, pegiat usaha perunggasan ini tidak hanya perihal ayam potong siap olah tetapi juga termasuk pakan maupun bibit yang didatangkan dari daerah lain, salah satunya Kalimantan Selatan.

"Termasuk kebutuhan pokok lainnya, baik berprofesi sebagai sopir dan krunya, mereka tidak keberatan dites hanya saja biayanya itu yang berat, kisaran Rp 400.000 - 600.000 paling murah," tuturnya.

Hal terrsebut sudah disampaikan kepada Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Sigit Karyawan Yunianto dalam bentuk penyampaian aspirasi.

Pinsar Kalteng mengusulkan kepada Ketua DPRD Kota Palangka Raya bahwa perlu upaya pemerintah untuk melonggarkan aturan yang dikeluarkan Dishub Kota tentang perlunya pegiat usaha khususnya bidang perunggasan yang melintasi pos masuk ke wilayah Palangka Raya, yakni menunjukkan surat bebas covid-19 kepada petugas pos jaga.

"Dampaknya dapat dilihat dengan tertahannya stok ayam ras untuk Kota Palangka Raya, dan mengakibatkan harganya melambung tinggi hingga mencapai Rp 80.000 per kilogram. Itu karena para supir harus melakukan rapid tes serentak Selasa lalu dan hasilnya baru keluar Rabu. Makanya hari ini ayam sudah normal stoknya karena mulai kemarin para sopir sudah bisa mengantar lagi dengan memegang hasil tes tersebut," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/B-11)

Berita Terbaru