Likuiditas dan Permodalan Perbankan Berada pada Level Memadai

  • Oleh Testi Priscilla
  • 29 Mei 2020 - 17:55 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik, Anto Prabowo mengatakan, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai.

"Rasio alat likuid atau non-core deposit dan alat likuid atau DPK April 2020 terpantau pada level 117,8 persen dan 25,14 persen, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen," kata Anto, Jumat, 29 Mei 2020.

Permodalan lembaga jasa keuangan menurutnya terjaga stabil pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio BUK tercatat sebesar 22,13 persen serta Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 651 persen dan 309 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen.

"Sebelumnya, proyeksi IMF dan rilis data PDB triwulan I-2020 menyebutkan bahwa mayoritas negara akan mengalami kontraksi pada triwulan selanjutnya akibat kebijakan lock down yang telah diterapkan. Selain itu, rilis data high frequency terkini semakin meningkatkan keyakinan bahwa AS dan Eropa akan mengalami resesi pada triwulan II-2020," jelasnya.

Kendati demikian, di tengah tingginya potensi resesi, mulai dilonggarkannya lock down di beberapa negara maju memberi sentimen positif dan mendorong penguatan pasar saham serta obligasi global pada Mei 2020.

"Meredanya volatilitas di pasar keuangan global berdampak pula pada pasar keuangan domestik yang bergerak relatif stabil di tengah masih tingginya penyebaran Covid-19 di Indonesia serta rilis data perekonomian domestik yang kurang positif," tuturnya.

Sampai dengan 20 Mei 2020, pasar saham ditutup di level 4.546 atau sedikit melemah sebesar -3,6 persen mtd, sedangkan pasar SBN relatif stabil dengan yield rata-rata menguat sebesar 11,9 bps mtd.

"Investor non residen mencatatkan net buy sebesar Rp12,5 triliun mtd dengan pasar saham Rp8,0 triliun dan pasar SBN Rp4,5 triliun, berbeda dengan bulan April yang masih mencatatkan net sell sebesar Rp10,9 triliun," bebernya.

OJK senantiasa memantau perkembangan pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian global dan domestik.

"OJK juga akan terus menyiapkan berbagai kebijakan sesuai kewenangannya menjaga stabilitas industri jasa keuangan, melindungi konsumen sektor jasa keuangan, serta mendorong pembangunan ekonomi nasional," tutup Anto. (TESTI PRISCILLA/B-11)

Berita Terbaru