Menengok Acara Tiwah Di Desa Panahan

  • 10 Juni 2015 - 02:23 WIB

DESA Panahan, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) merupakan desa terjauh di Aruta. Untuk menuju Desa Panahan harus menempuh jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut.

Setelah dibukanya jalan darat milik Korintiga Hutani, kini akses jalan darat  yang belum di aspal itu sudah tembus ,bisa ditempuh selama tiga jam dari kota Pangkalan Bun ke Desa Panahan.

Itu pun kita harus ekstra hati-hati karenaJumat (5/6/2015) menyambangi Desa Panahan untuk melihat ritual Tiwah meninggalnya perempuan bernama Jion (94 tahun). Ibunda dari Tandung, Damang Kecamatan Arut Utara meninggal dunia, pada 22 Mei 2015 yang telah dikebumikan pada 5 Juni lalu.

“Tiwah sejak nenek moyang Suku Dayak lahir sudah biasa dilakukan oleh Suku Dayak di Kalteng. Baik yang memeluk Agama Kaharingan maupun Hindu Kaharingan. Termasuk Suku Dayak di Desa Panahan,” ungkap Remo salah seorang Aparat Desa Panahan kepada Borneonews, Jumat (5/6/2015).

Meski jenazah sudah dikebumikan, ritual Tiwah masih terus berlanjut hingga Minggu (7/6/2015). Yakni dengan upacara penyembahan hewan korban yang ditandai dengan pemasangan Sapundu (patung kayu).

“Sapundu digunakan untuk menempelkan ke hewan korban saat upacara Tiwah. Dalam agama Kaharingan, Sapundu terbuat dari kayu ulin bulat yang diukir dan dipahat menyerupai manusia. Patung tersebut disesuaikan dengan orang yang meninggal.”

Dijelaskan Remo,  setiap rangkaian Tiwah banyak maknanya bagi warga Desa Panahan. Meski saat ini kita memasuki perubahan zaman, namun hal itu tidak menghapus tradisi yang telah melekat dihati masyarakat Desa Panahan.

“Yakni sifat kegotong-ro­yong yang sangat kental.”
 (Maman/B-7)


TAGS:

Berita Terbaru