Penolakan Rapid Test Akibat Minimnya Sosialisasi

  • Oleh Hendri
  • 02 Juli 2020 - 13:20 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Rencana rapid test massal kepada pelaku usaha yang berada di kawasan zona merah mendapat penolakan sejumlah warga.

Contohnya warga yang bermukim di Jalan Murjani bawah, atribut berupa tulisan menolak rapid test terpasang disejumlah pintu masuk gang perumahan. Bahkan mereka menutup pintu rumah seolah-olah sedang bepergian.

Menurut Ketua DPRD Kota Palangka Raya Sigit K Yunianto penolakan dari masyarakat timbul akibat kurangnya sosialisasi serta informasi yang jelas.

"Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa warga menolak. Pertama, kurangnya sosialisasi yang lebih massif dilakukan oleh pemerintah. Kesan yang didapatkan bahwa setiap orang yang positif akan mendapatkan kesulitan," katanya, Kamis 2 Juli 2020.

Dia menilai ada ketakutan di masyarakat jika nantinya dinyatakan positif Covid-19 karena rapid test. Sebagian warga khawatir tidak bisa menghidupi keluarganya jika nantinya harus diisolasi menunggu hasil pemeriksaan.


"Sebab, bisa jadi mereka akan dikarantina dan diisolasi. Dan selama masa karantina dan isolasi itu, mereka tidak bisa bekerja, keluarga mereka bisa tidak terurus," jelas politisi PDIP ini.

Masyarakat di luar sana, lanjut Sigit masih banyak yang berpikir jika terkena penyakit Covid-19 maka akan terbebani biaya pengobatan. Karena itu, sosialisasi serta pemberian informasi dari pemerintah masih dirasa kurang didapatkan oleh masyarakat.

"Ini artinya sosialisasi dalam hal pencegahan Covid-19 tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jika ada yang menolak, harus dicari cara agar test tetap bisa dilakukan komunikasi secara persuasif dan humanis secara terus menerus," pungkasnya. (HENDRI/B-5)

Berita Terbaru