Ragam Reaksi Soal Rencana Erick Thohir Merger Bank Syariah BUMN

  • Oleh Teras.id
  • 05 Juli 2020 - 08:01 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyatukan beberapa bank syariah yang dimiliki BUMN mendapatkan tanggapan beragam.

Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah Institute Pertanian Bogor (CIEST-IPB) Irfan Syauqi Beik mengatakan merger perbankan syariah yang dimiliki oleh BUMN bukan hal baru, melainkan muncul sejak masa akhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada periode pertama pemerintahan Jokowi, wacana ini juga kembali muncul. Konsolidasi anak usaha Himbara tidak otomatis menaikkan market share keuangan syariah karena tidak menambah jumlah aset.

Meski setelah merger, kinerja akan semakin kuat dan kemungkinan akan menembus 7-8 bank terbesar Indonesia mengingat posisi Mandiri Syariah yang telah masuk jajaran 15 bank terbesar di Indonesia.

Menurutnya, ada alternatif lain yang bisa dilakukan pemerintah ketimbang melakukan merger, yakni konversi. Irfan mengusulkan untuk mengkonversi BTN menjadi BTN Syariah sehingga aset perbankan syariah naik signifikan hingga 10 persen.

"Kalau anak-anak [anak usaha syariah Himbara] ini tidak tambah market share, tetapi memperkuat sehingga modal inti nambah dan jadi Bank BUKU IV. Opsi ini harus dikaji matang dan tidak perlu tergesa-gesa pada Februari 2021, perlu kajian matang sehingga saat implementasi tidak merugikan perbankan syariah secara keseluruhan," katanya kepada Bisnis, Jumat, 3 Juli 2020.

Kamis malam lalu, Erick Thohir berencana menyatukan beberapa bank syariah yang dimiliki BUMN, seperti BRI Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah, dan Mandiri Syariah. Erick mengaku sedang mematangkan kajian penyatuan bank-bank syariah tersebut.

"Insya Allah Februari tahun depan (2021) jadi satu bank syariah," kata Erick. Berdasarkan data OJK, pangsa pasar dari keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia per April 2020 mencapai 9,03 persen dengan total aset keuangan syariah Indonesia, tidak termasuk saham syariah, mencapai Rp 1.496,05 triliun.

Posisi ini mengalami peningkatan dari posisi 2019 yang sebesar 8 persen Per April 2020. Pemerintah Indonesia menargetkan market share keuangan syariah mampu mencapai 20 persen pada rentang waktu 2023-2024.

Dari sisi perbankan, aset bank syariah masih tergolong rendah yakni sebesar 6,07 persen per April 2020 yang berasal dari 20 unit usaha syariah, 14 bank umum syariah, dan 163 BPR Syariah. Per April 2020, total aset perbankan syariah mencapai Rp 534,86 triliun.

Berita Terbaru