Hari Koperasi Nasional Harus Jadi Momentum Kemajuan Koperasi di Kotim

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 11 Juli 2020 - 14:40 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Hari Koperasi Nasional tahun 2020 ini, harus jadi sebuah momentum untuk kemajuan koperasi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

"Saya harap Harkopnas tahun ini bukan hanya sebagai kegiatan seremonial saja. Namun menjadi momentum dan membawa dampak yang luas bagi koperasi di wilayah ini," ujar Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi Anas, saat membuka kegiatan memperingati Harkopnas di Kantor KSPPS BMT KUBE Sejahtera Unit 068 Sampit, Sabtu, 11 Juni 2020. 

Ia menerangankan bahwa Harkopnas tahun ini dilaksanakan di tengah keprihatinan daerah yang sedang mengalami pandemi Covid-19. Sehingga, kegiatan hari ini dilakukan secara virtual bersama anggota koperasi. Guna mencegah penyebaran Covid-19. 

Meskipun begitu, pandemi tersebut tidak menghilangkan semangat mereka untuk menjaga marwah gerakan koperasi di Kotim ini. 

"Apa yang dilakukan oleh BMT ini sangat penting. Guna pemulihan ekonomi masyarakat ditengah ketidakpastian akibat wabah Covid-19 yang berkepanjangan saat ini," kata Anas. 

Iapun berharap agar koperasi di Kotim yang junlahnya saat ini mencapai 267 bisa terus semangat untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan yang berkedaulatan bersama anggota yang sehat dan koperasi yang kuat. Dan hal itu sesuai dengan tema Harkopnas 2020 ini. 

Sementara, untuk di Kotim sendiri dari totol 267 koperasi yang ada. Beberapa diantaranya kurang aktif karena berbagai kendala. Diantara ada koperasi nelayan dan juga simpan pinjam.

Kendala yang dihadapi paling banyak terkait keharmonisan antara pengurus dan anggota. Sehingga tidak ada kesepahaman hingga membuat jalan ditempat. 

"Hal itulah yang harus dihindari, agar koperasi bisa lebih maju kedepannya," kata Anas. 

Sementara, Ketua Pengurus KSPPS BMT KUBE Sejahtera Unit 068 Sampit Suprianto mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 ini juga sangat berpengaruh terhadap koperasi mereka. Salah satunya adalah penarikan simpanan tabungan dari anggota yang totalnya mencapai Rp 2,8 miliar. 

"Kami jugas sempat stop pembiayaan sekitar 1,5 bulan. Karena ada kebijakan dari OJK," terang Suprianto. 

Selain itu, tingkat kemacetan juga tinggi ditengah pandemi Covid-19, bahkan diatas 11%. Meskipun begitu pihaknya dapat membukukan sisa hasil usaha (SHU) yang mencapai Rp 1,2 miliar. Dan dibagikan kepada anggota Rp 630 juta. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

Berita Terbaru