Teten Masduki Keluhkan Koperasi Tak Diminati Milenial

  • Oleh Teras.id
  • 13 Juli 2020 - 03:01 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan proses regenerasi kepengurusan koperasi saat ini berjalan lamban.

"Saya kaget setelah bertemu dengan 100 koperasi yang terbesar ternyata tidak ada anak mudanya, ini jangan-jangan koperasi mengalami stagnasi regenerasi. Tapi itu memang sebenarnya betul terjadi dan perlu dicarikan visi baru agar koperasi lebih diterima anak muda," kata Teten dalam diskusi daring, Ahad 12 Juli 2020.

Sepinya anak muda di Koperasi juga dialami di kampus-kampus yang mana bisnis koperasi dilakukan tanpa adanya peran mahasiswa.

Menurut dia, saat ini koperasi-koperasi yang ada di Indonesia sebagian besar belum merambah pada industri kreatif dan cenderung menjalankan bisnisnya dengan cara konvensional. Padahal, kata Teten, potensi industri kreatif sangat besar dan dekat dengan anak muda.

Upaya untuk digitalisasi koperasi pun harus dilakukan dengan menyasar target industri animasi, musik dan hiburan, game serta pariwisata. Sektor-sektor ini merupakan titik potensial yang digemari anak muda khususnya di kalangan mahasiswa.

"Dengan format yang modern jangan hanya nanti bisnis koperasi jadi tukang fotokopi atau bikin kaos atau bikin jaket almamater, bisnis lainnya juga penting karena milenial ini kan tertarik dengan ekonomi kreatif," katanya.

Kemudian, Teten juga mendorong Koperasi bisa masuk sistem digital. Hal itu menjadi penting, karena dapat memudahkan mengakses pasar. Lalu secara model bisnis, kata Teten, akan menjadi lebih efisien dan akuntabel.

"Ke depan saya kira digitalisasi kelembagaan koperasi juga penting memberikan kemudahan pelayanan kepada anggota," ucapnya.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Riza Damanik menjelaskan, proses digitalisasi koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus dipercepat. Sebab, penerapan sistem daring untuk meningkatkan eksistensi dan peluang pasar yang dilakukan cenderung terlambat.

Padahal berdasarkan survei yang dilakukan bulan Maret lalu, usaha yang telah terintegerasi ekosistem digital mengalami pertumbuhan 19 persen.

Berita Terbaru