Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Siak Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Mantan Sekda Barito Timur Bertani Singkong untuk Buka Lapangan Kerja di Desa

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 08 Agustus 2020 - 14:30 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Jarum jam sudah menunjukkan angka 08.45 WIB, persis ketika Borneonews tiba di Desa Balawa Kecamatan Paju Epat, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Tamiang Layang. Tidak lama kemudian datang sebuah mobil jenis hardtop berwarna biru tua yang dikendarai oleh mantan Sekretaris Daerah atau Sekda Barito Timur, Eskop.

Masih seperti saat bertugas sebagai sekda, dengan senyum ramah dan penuh keakraban dia menyambut kami yang ingin melihat aktivitas barunya sebagai petani. Bedanya, Eskop terlihat lebih langsing dan gagah dengan kulit agak gelap karena sering melakukan aktivitas fisik di kebun serta berjemur terik matahari.

Sejak purna tugas sebagai PNS akhir bulan Juni 2020, Eskop memilih mengisi masa pensiunnya untuk berkebun ubi kayu atau singkong di desa kelahirannya, Desa Balawa.

Sebenarnya, dengan gaji pensiun dan istri yang juga PNS serta anak-anak yang sudah bekerja semua, secara materi dia tidak kekurangan untuk menikmati pensiun dan bersantai di rumah saja, namun Eskop punya alasan tersendiri kenapa dia menekuni bidang pertanian dan rela berpanas-panasan di kebun.

"Saya ingin berdayakan warga di desa kelahiran dan membuka lapangan kerja terutama saat pandemi covid-19 ini," jelas Eskop.

Selain itu, lanjutnya, dunia pertanian bukanlah sesuatu yang asing karena dia terlahir sebagai anak petani yang hidup sederhana di desa yang belum lama dialiri listrik ini. Eskop juga mengenyam pendidikan sarjananya di bidang pertanian bahkan pernah menjabat sebagai kepala dinas pertanian.

Karena latar belakang itulah Eskop berusaha mengabdikan ilmu dan pengalamannya untuk membangun pertanian di desa sekaligus menciptakan lapangan kerja dan menginspirasi warga lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Pada tahap awal, Eskop menanam singkong jenis gajah pada celah tanaman sawitnya yang masih berusia 2 tahun, pasalnya, celah tanaman sawit yang berjarak 9 meter tersebut masih bisa dimanfaat untuk tanaman umur pendek seperti singkong gajah yang memiliki usia panen 9 bulan.

Jenis singkong yang dapat menghasilkan panen hingga 40 kilogram per pokok tersebut ditanam dengan jarak 1x1 meter.

Untuk membantunya menggarap lahan seluas itu, Eskop melibatkan 20 orang tenaga kerja mulai dari pembukaan lahan, penyiapan bibit hingga penanaman, dengan upah Rp 150 ribu per hari.

Menurut dia, apa yang dilakukannya dalam kondisi seperti saat ini sangat diharapkan masyarakat di desa, terbukti dengan banyaknya warga yang ingin ikut bekerja untuk menambah penghasilan keluarga.

Sambil mengitari kebun singkong yang baru ditanam sekitar satu minggu, Eskop menjelaskan bahwa pengembangan tanaman singkong seluas 4 hektare yang dilakukannya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan pembuat tepung tapioka di Pelaihari Kalimantan Selatan.

Karena itu, dia memastikan seluruh hasil panen akan terserap oleh pasar dan berharap kedepan luas tanam singkong di Desa Balawa dapat ditingkatkan sehingga berdampak bagi peningkatan ekonomi warga desa.

"Puji Tuhan, pada umur seperti ini saya masih diberi kesehatan, tidak ada salahnya saya berbuat sesuatu di tengah masyarakat," pungkasnya. (BOLE MALO/B-11) 

Berita Terbaru