Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Tanjung Balai Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Dokter Ungkap Pentingnya Asupan Kalori buat Pasien Kanker Paru

  • Oleh Teras.id
  • 09 Agustus 2020 - 04:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Dokter paru Sita Laksmi Andarini mengungkapkan kanker tidak harus disembuhkan dengan diet ketat dan makanan rendah kalori hanya demi menghambat pertumbuhan sel kanker. Dia menyebut penderita kanker, khususnya kanker paru, membutuhkan kalori untuk proses penyembuhan.

“Perlu kalori untuk memerangi kanker serta vitamin yang larut dalam lemak, lalu unsur mineral, vitamin D. Jangan hanya karena sudah kemoterapi tidak dilengkapi sama sekali dengan treatment, misal menjemur badan dan makanan sehat,” ungkap Sita.

Sita menyebut kalori sangat bermanfaat untuk meregenerasi sel serta menjaga daya tahan tubuh. Pada masa pandemi Covid-19, penderita kanker masuk salah satu daftar orang yang rentan tertular karena sistem imun yang menurun akibat proses penyembuhan, seperti kemoterapi. Oleh sebab itu, asupan makanan juga harus terkendali tanpa menurunkan kadar kalori.

“Daya tahan atau imunitas pasien kanker itu lebih rentan daripada orang sehat, jadi lebih mudah terpapar Covid-19. Apalagi setelah terdampak Covid-19, biasanya fungsi paru sudah berkurang,” jelas Sita.

Dia pun menegaskan pentingnya pengobatan bagi penderita kanker paru berjalan dengan normal. Begitu pula dengan konsumsi obat-obatan dan perawatan kanker paru harus dilakukan sesuai prosedur. Setiap protokol kesehatan saat ke rumah sakit sangat wajib dilakukan, antara lain memakai masker, mencuci tangan.

“Jika respons pengobatan seperti terapi berhenti selama pandemi, kanker bisa saja hilang atau bisa hilang parsial saja. Beberapa pun ada yang mengecil atau ada pula yang progresif, artinya membesar dan meluas,” jelasnya.

Sita menambahkan pentingnya upaya preventif dalam menanggulangi kanker paru. Kondisi ini menjadi tantangan karena prevalensi perokok dewasa di Indonesia sangat besar, terutama laki-laki. Pasalnya dari 10 orang, 6-7 orang adalah perokok aktif, sisanya sangat berpotensi menjadi perokok pasif yang mengisap asap rokok.

Beberapa temuan lain mengupayakan langkah preventif kanker paru karena masih banyak masyarakat yang bekerja di kawasan yang rentan menyebabkan masalah pernapasan, misalnya pabrik semen. Faktor lain untuk memulai langkah preventif adalah penelusuran riwayat penyakit paru atau kanker dalam keluarga. Sejumlah indikator inilah yang menurut Sita sangat penting menjadi pertimbangan bagi setiap orang yang berisiko untuk melakukan upaya preventif.

TERAS.ID

Berita Terbaru