Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Toba Samosir Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Hari Tani dan Upaya Menyejahterakan Petani di Tengah Pandemi

  • Oleh ANTARA
  • 25 September 2020 - 10:30 WIB

BORNEONEWS, Jakarta  - Sebagai negara agraris, petani Indonesia memiliki peran penting dalam pilar perekonomian serta kontribusinya terhadap ketahanan pangan bagi 267 juta penduduk.

Dalam hal yang lebih spesifik, sektor pertanian di mana petani menjadi aktor utama di dalamnya, menjadi satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan atau mencatatkan kinerja positif, di tengah pandemi COVID-19 yang masih melanda Indonesia.

BPS merilis sektor pertanian berkontribusi sebesar 15,46 persen pada struktur pertumbuhan PDB Indonesia di triwulan II-2020. Nilai kontribusi ini meningkat dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu sebesar 13,57 persen.

Presiden Joko Widodo sendiri dalam pidato Sidang Tahunan MPR-RI dan Sidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI Tahun 2020, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, pada Agustus lalu, menyatakan bahwa Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap pertanian, khususnya pada ketahanan pangan dan kelancaran rantai pasok makanan.

Selain itu, Presiden juga berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan menargetkan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga 102 di tahun 2021.


Artinya, keinginan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan terserapnya hasil panen dan distribusi pada rantai pasok, masih terus diupayakan, agar pada akhirnya Nilai Tukar Petani (NTP) tetap tumbuh.

Namun begitu, pada kenyataannya rantai pasok masih menjadi beban yang dihadapi petani. Pada peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September ini, petani belum merasakan keuntungan besar atas hasil panen mereka.



Tak miliki kuasa

Rantai pasok yang panjang, terutama pada komoditas beras, seringkali tidak menguntungkan petani karena mereka tidak memiliki kuasa untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG).

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mencatat setidaknya beras petani harus melalui empat hingga enam pelaku distribusi sebelum sampai di tangan konsumen. Alih-alih menjual kepada Bulog, banyak petani yang pada akhirnya lebih memilih menjual hasil panen kepada tengkulak.

Petani pun tidak memiliki posisi tawar yang menguntungkan saat bertransaksi karena harga komoditas yang mereka hasilkan sangat bergantung pada pasar. Alhasil, petani hanya bertindak sebagai price taker dan bukan price maker.

Berita Terbaru