Aplikasi Pilgub (Pemilihan Gubernur) Propinsi Kalimantan Selatan Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ketua PWI Kotim : Hoaks Bukan Berita, Tidak Ada Istilah Berita Hoaks

  • Oleh Testi Priscilla
  • 25 September 2020 - 18:45 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Kotawaringin Timur, Andri Rizky Agustian mengatakan ada kesalahan pemahaman di kalangan masyarakat yang menggunakan frasa "berita hoaks".

Padahal menurutnya, hoaks tidak bisa dimasukkan dalam kategori berita, melainkan hanya kabar atau informasi yang direkayasa untuk menutupi fakta sebenarnya.

"Jadi sebenarnya tidak bisa dikatakan berita hoaks karena hoaks itu bukan berita. Perbedaannya berita, jelas kebenaran dan sumbernya. Sedangkan hoaks tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Andri saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Pemberitaan dan Mencegah Berita Hoaks di Pilkada via zoom live pada Jumat, 25 September 2020.

Bersama Staf Ahli Menteri Bidang Hukum pada Kementerian Komunikasi dan Informatika, Prof Henri Subiakto, Anggota Dewan Pers, Arif Zulkifli, serta Anggota KPU Kabupaten Kotawaringin Timur Divisi Hukum dan Pengawasan, Muhammad Rifqi Nasrulla, Andri menjadi pembicara dalam webinar yang dilaksanakan Dewan Pers bersama Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut.

Dia menambahkan, berita tidak dapat disamakan dengan hoaks karena ada prosedur yang harus dilalui wartawan untuk menciptakan sebuah karya jurnalistik, dan itu pun harus sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta Kode Etik Jurnalistik.

Hal ini dibenarkan Anggota Dewan Pers, Arif Zulkifli. Menurutnya sebuah berita yang diterbitkan tentunya telah melalui tahapan sesuai kode etik jurnalistik.

"Berita yang ditampilkan kepada publik tentunya sudah diolah redaksi, sudah melalui tahap pengecekan dan konfirmasi sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Sementara hoaks, banar apa yang dikatakan pak Andri, bahwa tidak bisa disebut sebagai berita," tuturnya.

Menurut Arif, dalam dunia jurnalistik juga ada istilah bahwa berita itu tidak sempurna, tetapi namanya bukan hoaks melainkan tidak valid.

"Sebagai contoh ketika ada kasus pembunuhan dan wartawan membuat berita bahwa sosok A diduga pelaku. Berita ini sudah diolah dengan aturan yang berlaku dan melalui konfirmasi. Namun saat persidangan ternyata terungkap pelakunya si B. Apaka berita pertama bisa dikayakan hoaks, tidak, tetapi hanya kurang valid. Dan wartawan atau media tersebut harus membuat berita kedua yang menyampaikan pelaku sesungguhnya adalah sosok B," jelas Arif lagi. (TESTI PRISCILLA/B-11)

Berita Terbaru