Aplikasi Pemenangan Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ekonom Indonesia Gambarkan Tantangan Industri Minyak Sawit dengan Negara-negara Uni Eropa

  • Oleh Testi Priscilla
  • 21 Oktober 2020 - 19:55 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ekonom Fadhil Hasan menggambarkan tantangan industri minyak sawit dalam hubungan dagang dengan negara-negara Uni Eropa. Penggambaran ini disampaikannya dalam Fellowship Journalist Batch II yang dilaksanakan secara virtual atas kerjasama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada Rabu, 21 Oktober 2020.

"Uni Eropa mengeluarkan regulasi RED II delegated act yang mengkategorikan minyak sawit sebagai produk yang memiliki high risk ILU (indirect land using) yang mana dengan kategori tersebut penggunaan minyak sawit sebagai biofuel akan mulai dibatasi dan kemudian akan dihapuskan secara bertahap pada 2030," kata Fadhil.

Uni Eropa menetapkan Countervailing Duties terhadap biofuel Indonesia antara 8-18% karena dianggap biofuel Indonesia menerima subsidi. Dengan pengenaan tarif tersebut, maka biofuel based palm oil tidak dapat bersaing di pasar Uni Eropa.

"Industri minyak sawit Indonesia menghadapi kampanye negatif yang dilakukan oleh NGO Uni Eropa terkait dengan deforestasi, biodiversity, masalah lahan dan sosial serta pekerja anak atau child labor," jelasnya.

Sementara hambatan ekspor biodiesel Indonesia di pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa menurutnya juga sedang terjadi.

"Di Pasar Amerika Serikat, ekspor Biodiesel Indonesia dikenakan Anti-Dumping dan Anti-Subsidi oleh Pemerintah Amerika Serikat. Total Marjin AD/CVD 126,97 % - 341,38 %. Lalu Pemerintah telah melakukan upaya banding di DSB WTO dan dalam proses banding di United States Court of International Trade atau USCIT," jelasnya.

Sementara di Pasar Uni Eropa, lanjut Fadhil, Ekspor Biodiesel Indonesia dikenakan Anti-Subsidi oleh Otoritas Uni Eropa.

"Range Provisional CVD 8 % - 18 %. Pemerintah telah menempuh langkah pembelaan melalui forum hearing dan penyampaian submisi dengan EU. Itu hambatan-hambatan yang dihadapi industri sawit Indonesia," bebernya. (TESTI PRISCILLA/B-11)

Berita Terbaru