Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Sungai Penuh Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Megawati Ingatkan Kegagalan Proyek Sejuta Hektare Sawah Era Orba

  • Oleh Teras.id
  • 31 Oktober 2020 - 23:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri kembali mendorong kadernya menggalakkan gerakan menanam tanaman pendamping beras. Megawati berujar jenis tanaman pun bisa disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah.

"Jadi pendamping beras ini harus dibuat menurut saya karena tidak semua Indonesia ini adalah lumbung beras loh," kata Megawati saat memberi arahan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kebudayaan PDIP, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Megawati lantas menyinggung rencana pemerintah mencetak sejuta hektare sawah di lahan gambut di Kalimantan Tengah. Ia mengingatkan proyek itu pernah dicanangkan Presiden Soeharto di era Orde Baru (Orba) tetapi gagal.

Ketika itu, kata Megawati, ia duduk di Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat. Komisi tersebut membidangi di antaranya urusan pertanian dan kehutanan.

"Pak Jokowi mau membuat, di Kalimantan Tengah. Zaman Pak Harto, saya di Komisi empat DPR," kata Megawati.

Megawati mengaku tak tahu siapa yang ketika itu membisiki Soeharto agar mencetak sejuta hektare sawah di lahan gambut. Padahal, kata dia, tanaman padi memerlukan banyak air.

"Itu kan airnya harus basa, bukan asam. Gambut itu asam," kata Megawati.

Megawati mengatakan ketika itu mendatangi tempat penelitian padi di Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Menurut Megawati, waktu itu ia mendapat jawaban bahwa tak ada benih padi yang bisa ditanam di tanah asam.

"Akhirnya apa Kan busuk satu juta hektare. Coba bayangkan, sayang. Karena apa Tidak ada sebuah persiapan komprehensif," kata Megawati.

Jika ingin mencetak sejuta hektare sawah, lanjut Megawati, harus dipastikan ada benih yang cocok terlebih dulu. Ia berujar detail semacam ini seringkali luput dari pemikiran orang-orang Indonesia.

"Banyak orang Indonesia enggak sanggup mikir detail, enggak sanggup. Biar banyak orang pintar, maunya cepat, apa ya, tidak detail. Nanti di lapangan kedodoran karena belum tentu teori itu sama dengan lapangan," ujar Presiden RI ke lima ini.

ANTARA

Berita Terbaru