Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Nias Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Pemkab Kobar Diminta Segera Bahas Masalah Belajar Tatap Muka

  • Oleh Danang Ristiantoro
  • 03 November 2020 - 17:15 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Anggota Komisi A DPRD Kobar Mina Irawati mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) bisa segera membahas masalah pendidikan di Kobar, tentang penerapan sekolah langsung atau belajar tatap muka untuk wilayah yang masuk zona hijau.


Komisi A DPRD Kobar dalam hal ini juga membidangi Pendidikan, ingin duduk bersama Pemkab Kobar untuk membahas hal tersebut, sehingga bisa memberikan solusi yang terbaik untuk Pendidikan Kabupaten Kobar ditengah pandemi Covid-19.

"Kita berharap masalah pendidikan ditengah pandemi ini untuk segera dibahas, terutama terkait belajar langsung atau tatap muka. Seperti apa mekanismenya, khsususnya di wilayah yang zero covid-19," kata Mirna, Selasa, 3 November 2020.

Ia menyampaikan bahwa, daerah - daerah yang sudah berzona hijau, saat ini sudah melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, yaitu dengan melalui sif - sip diatur jam tertentu. Ternyata hal tersebut menjadikan semangat belajar bagi mereka para pelajar.

"Jadi kebijakannya itu, kalau memang masih belum aman dari corona, sekolah tatap muka jangan dulu, tapi kalau sudah aman, sudah tidak ada yang positif di desanya, boleh untuk bersekolah itu harapan kami dari Komisi A," tuturnya.


Mirna Irawati yang juga sebagai Bunda PAUD Kobar, ketika langsung turun ke sekolah - sekolah PAUD yang ada di Kobar, begitu terasa mengiris hati mengetahui bahwa mereka merindukan sekolah, merindukan guru - guru, teman -temannya dan bermain di sekolah seperti biasanya.

"Mereka bahkan protes, kenapa ma' kami tidak boleh sekolah sedangkan Mama boleh aja ke mana - mana gitu. Begitu juga anak saya yang duduk di SD dan SMA mulai menyatakan protesnya ketika mereka dibawa jalan, melihat taman ramai bahkan cafe - cafe masih ramai dan tidak ada batasan jam buka. Semua aktivitas seperti tidak ada corona, sementara anak - anak sekolah ini belum ada kebijakan, bahkab dari pemerintah pusat sekalipun, untuk bisa belajar secara tatap muka seperti biasa," ungkapnya.

Mirna mengaku khawatir, apabila anak - anak harus terus belajar dirumah secara online menggunakan gadget, akan berdampak negatif pada meraka.

"Kita ketahui bersama, ketika anak harus belajar online 1 jam megang HP untuk belajar dan sisanya mereka main game, akhirnya membuat mereka ketergantungan akan permainan game yang tidak bisa kita kontrol, ini dampak negatif yang kami khawatirkan," tuturnya. (DANANG/B-5)

Berita Terbaru