Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Bengkayang Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ada Perantara Penjual Gelap CPO Milik PT Surya Mentaya

  • Oleh Naco
  • 09 November 2020 - 15:35 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Penggelapan CPO yang dilakukan Surya, Mamat Yusuf, dan Ramlan yang kemudian dijual kepada tersangka Ali Chairul Anam alias Jarot melalui perantara Rahmat Kartolo.

Saat itu, Surya selaku sopir truk PT Surya Mentaya itu bertugas mengambil CPO itu dari perusahaan dan harusnya dibongkar di Pelabuhan Cempaga. Namun truk itu diserahkan Surya kepada terdakwa Mamat Yusuf dan dijual kepada pengusaha minyak kotor (Miko) Ali Chairul Anam alias Jarot.

Saksi Kahfi Fahlevi menerangkan, CPO mereka digelapkan Surya Cs dan dijual kepada Ali Chairul Anam alias Jarot melalui perantara Rahmat Kartolo.

"Saya di TKP tanya siapa yang beli CPO saya ini, dibilang mereka Jarot. Yang membawa mereka jual CPO itu ke gudang (TKP) tersebut Rahmat Kartolo," kata manajer operasional itu.

Menurut Kahfi, truk itu disopiri Surya. Namun yang membawa truk berisi CPO itu ke TKP adalah Mamat. Dan dari pengembangan penggelapan itu turut menyeret terdakwa Ramlan.

"Harusnya CPO itu bongkar di pelabuhan kita, bukan di situ," ucap saksi.

Saat di TKP, menurut Kahfi, hanya ada Rahmat Kartolo dan Mamat. Dan saat itu terjadi bongkar muat bukan pada tempatnya.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Sampit yang diketuai oleh AF Joko Sutrisno biru sempat mempertanyakan jaksa mengapa Rahmat Kartolo tidak jadi tersangka dan hanya saksi.

"Sudah dalam P19 kami Rahmat Kartolo agar jadi tersangka, namun sampai kini SPDP belum kami terima, hanya Jarot saja," tegas jaksa Dewi Khartika.

Sementara itu, saksi Untung Wibowo mengatakan diberi tahu bahwa CPO mereka tidak bongkar di pelabuhan Cempaga, namun di lokasi penggelapan.

Sedangkan saksi M Fairiza Rifhan, karyawan PT Surya Mentaya mengatakan saat itu dirinya yang awalnya mengetahui adanya penggelapan itu.

Berawal saat ia berpapasan dengan truk yang biasanya dikemudikan Surya di Jalan Kapten Mulyono Sampit. Padahal arah truk itu bukan ke situ namun bongkar di pelabuhan Cempaga.

Dirinya melihat truk itu masuk gudang di TKP tersebut dan terjadi bongkar muat. Di situ ada terdakwa Mamat dan saksi Rahmat Kartolo.  Hingga dirinya melaporkan kepada Untung dan Kahfi. Sementara itu di TKP kata dia, Surya dan Ramlan tidak ada.

"Saya curiga waktu itu kok truk ada di Sampit, lalu saya ikuti dan kami lapor polisi," tegasnua.

Sementara itu, Leli Prida Simanjuntak menerangkan saat itu dirinya bertugas di krani timbang perusahaan. Pada hari itu Surya ada mengambil CPO sebanyak 7,8 ton dari perusahaan menuju Pelabuhan Cempaga.

"Dia tanda tangan baru saya serahkan replas kepadanya," ucap Leli.

Sedangkan saksi Andri mengaku truknya dibawa Surya, melarikan minyak CPO yang biasa dibongkar ke pelabuhan Cempaga adalah miliknya.

"Tidak ada izin Surya membawa itu, saya dirugikan karena tidak bisa kerja, karena mobil di sita," tegasnya.

Surya juga diajak bekerja dengannya karena kasihan. Namun hal tersebut dimanfaatkan Surya untuk melakukan penggelapan.

Seperti diketahui kejadian  pada 14 Agustus 2020, saat truk CPO nomor Polisi KH 8255 FN yang dikemudikan Surya, dari PT WNL, Desa Pundu menuju PT Surya Mentaya Gemilang di Desa Cempaka Mulia Barat, Kecamatan Cempaga, dengan membawa 7,8 ton CPO. Namun oleh Surya malah digelapkan. (NACO/B-11)

Berita Terbaru