Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Malinau Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sektor Pariwisata di Pangkalan Bun

  • Oleh Jurnalis Warga
  • 24 November 2020 - 06:15 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Beberapa bulan belakangan ini dunia tengah dilanda oleh wabah pandemi virus corona (covid-19) atau yang sering dikenal dengan Corona Virus disease 2019 (Covid-19). Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir Desember tahun 2019 yang lalu.

Virus ini diduga berasal dari hewan liar yaitu kelalawar. Lalu, bermutasi dari hewan kepada manusia, dan dari manusia kepada manusia yang lainnya. Ciri-ciri awal orang yang terinfeksi virus Covid-19 antara lain yaitu demam, batuk, dan sesak napas. Gejala tinggi sulit bernapas, dada terasa sakit, kepala sakit, badan kaku sulit bergerak, area wajah membiru. Sehingga Covid-19 dapat mematikan yang terinveksi.

Kasus persebaran pandemi virus corona (covid-19) di dunia termasuk di indonesia kian hari kian meningkat tajam kasus positifnya. Akibat dari penambahan kasus psositif yang kian hari kian meningkat tajam itulah, mengakibatkan para pemerintah diseluruh negara-negara yang terdampak virus corona mengeluarkan himbauan untuk mentaati gerakan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak minimal 1 Meter dan mencuci tangan dengan benar sesering mungkin minimal 20-60 detik agar dapat membantu memutuskan mata rantai penyebaran virus corona (Covid-19).

Selain itu, pemerintah di hampir semua negara yang terdampak juga harus harus mengambil keputusan dan tindakkan untuk melakukan lockdown atau pembatasan sosial bersekala besar ( PSBB ) dinegaranya masing-masing.

Wabah pandemi virus corona ( covid-19 ) ini tidak hanya menyerang sistem kesehatan dan kekebalan tubuh manusia saja, namun juga menyerang berbagai sistem dilini kehidupan masyarakat diseluruh negara-negara yang terdampak oleh wabah pandemi virus ini. Akibat dari adanya peraturan pemerintah untuk menerapkan lockdown dan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB ) diseluruh negara-negara yang terdampak, maka mengharuskan banyak kegiatan yang dengan terpaksa harus dihentikan sementara atau diubah menjadi berkegiatan dari rumah saja.

Contohnya, bersekolah dari rumah, berkerja dari rumah, beribadah dari rumah dan lain sebagainya. Selain itu, imbas lain dari adanya penerapan lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) itu adalah penutupan semua tempat-tempat yang akan memicu adanya kegiatan berkumpul dan keramaian contohnya seperti penutupan sekolah, tempat-tempat ibadah, mall-mall, tempat-tempat hiburan, restoran atau tempat makan, tempat-tempat wisata dan lain sebagainya. Keputusan ini diambil oleh pemerintah karena bertujuan untuk memutuskan mata rantai penyebaran pandemi virus covid-19 (virus corona).

Dampak dari adanya penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penutupan beberapa tempat-tempat yang disinyalir akan memicu kerumunan dan keramaian tersebut mengakibatkan beberapa kerugian-kerugian yang dirasakan oleh para pelaku dan pemilik usaha. Para pelaku dan pemilik usaha-usaha tersebut mengatakan bahwa omset yang mereka dapatkan selama masa pandemi covid-19 ini menurun sangat drastis bahkan penurunan omset tersebut lebih dari 50%.

Penurunan omset tersebut dikarenakan minat/daya beli para konsumen pun sangat berkurang dan menurun cukup drastis dimasa pandemi covid-19 ini. Dampak lain dari penurunan omset tersebut juga sangat mengancam kelangsungan dari bisnis-bisni yang dimiliki oleh para pelaku dan pemilik usaha-usaha tersebut.

Selain itu, penurunan omset yang dirasakan oleh para pelaku dan pemilik usaha-usaha tersebut juga dirasanakan dan juga mengancam kelangsungan hidup para pegawai-pegawai yang dimilikinya. Dikarenakan dari awal masa pandemi virus corona ( covid-19 ) hingga saat ini sudah banyak sekali pelaku dan pemilik usaha yang memilih untuk menutup tempat-tempat usahanya dan mengurangi atau mem PHK besar-besaran para pekerjanya. Sehingga menimbulkan masalah baru yaitu semakin meningkatnya pengguran dimana-dimana akibat dampak dari pandemi covid-19 ini.

Seperti yang dikatan oleh Herry, pemilik usaha UMKM Biro Perjalan Wisata di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah saat diwawancarai oleh Nur Fitriya Eka Nanda mahasiswi S1 Perbankan Syariah UIN walisongo yang sedang menjalankan KKN DR – 75 UIN Walisongo Semarang pada ( 16/11/2020) yang lalu. Herry mengatakan bahwa, “Selama saya bergelut di bidang pariwisata serta memiliki usaha UMKM di bidang biro perjalan wisata sejak tahun 2003 yang lalu, baru kali ini saya merasakan dampak yang begitu amat sangat besar bagi usaha yang miliki.”

Berita Terbaru