Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Pasaman Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ini Vonis Hakim untuk Pemalsu Surat Rapid Test di Kobar

  • Oleh Danang Ristiantoro
  • 25 November 2020 - 19:35 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Terdakwa Samin dalam kasus pemalsuan surat rapid test, divonis penjara selama 1 tahun 6 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pangkalan Bun pada Selasa, 24 November 2020.

Putusan majelis hakim PN Pangkalan Bun tersebut lebih ringan 1 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nofanda Prayudha, yaitu menuntut terdakwa dengan penjara 2 tahun 6 bulan.

"Atas putusan majelis hakim tersebut, JPU menyatakan pikir - pikir selama 7 hari," kata Kasi Pidum Kejari Kobar Panji Wiratno, saat dikonfirmasi pada Rabu, 25 November 2020.

Lanjutnya, Panji menyampaikan bahwa adapun pasal yang dikenakan kepada terdakwa yaitu Pasal 268 ayat (1) KUHP Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Ia menambahkan, selain terdakwa Samin, ada beberapa terdakwa dalam hal ini si pemesan surat Rapid Test palsu yang juga di vonis pada hari yang sama, dengan putusan lebih rendah dari tuntutan JPU. Yaitu, Musthofa bersama sejumlah rekannya dituntut 2 tahun 4 bulan, diputuskan 1 tahun 4 bulan dan M.Tomo dituntut 2 tahun 6 bulan, diputuskan 1 tahun 10 bulan.

Diinformasikan bahwa terdakwa Samin ini, pada Juli 2020. Bertempat di rumah terdakwa Jalan  H. Munawar, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan, Kobar. Telah membuatkan surat rapid test palsu sebanyak 19 lembar, atas permintaan Muhammad Tomo (berkas terpisah). Selain itu ia juga membuatkan surat Rapid Test Palsu permintaan Jasri (DPO) sebanyak 3 lembar. Terdakwa menerima pesanan pembuatan Surat Keterangan Hasil Rapid Test melalui Whatsapp.

Dalam menjalankan aksinya, terdakwa Samin dengan menggunakan peralatan 1 laptop merek Acer warna silver, 1 flashdisk, 1 printer merek Canon warna hitam dan 1 Cap Stempel Laboratorium RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun palsu yang dibuat di tempat tukang cap langganan terdakwa.

Bahwa dari keseluruhan Surat Keterangan Hasil Rapid Test palsu yang dibuat oleh terdakwa tersebut mencantumkan hasil 'Non Reaktif' terhadap infeksi dari Corona Virus Desease 2019 (COVID-19), sedangkan pemeriksaan rapid test yang seharusnya dilakukan terhadap orang atau pasien tersebut, belum dilakukan sehingga hasil sesungguhnya dari pemeriksaan tersebut belum diketahui.

Setiap surat Rapid Test palsu ia patok harga sebesar Rp. 150.000. Dari keseluruhan hasil pembuatan Surat Keterangan Hasil Rapid Test palsu sebanyak 22 surat tersebut, terdakwa memperoleh keuntungan sebesar Rp. 3.300.000. (DANANG/B-5)

Berita Terbaru