Ramadan, Amal Dan Kesalehan Politik

  • 03 Agustus 2015 - 00:06 WIB

RAMADAN telah meninggalkan kita. Seyogyanya Ramadan tidaklah hanya meninggalkan pelajaran menahan lapar dan dahaga, namun lebih dari itu, menjadi suatu pelajaran penting dalam konteks kehidupan berpolitik.

Terlebih, di Kalimantan Tengah yang dalam hitungan beberapa bulan ke depan akan melaksanakan pergantian tampuk kepemimpinan atau pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada).

Politik ladang amal

Politik disebutkan sebagai seni untuk meraih kekuasaan, dalam perspektif sempit. Sehingga membuat banyak orang memandang politik sebagai jalan yang kurang baik dan dihindari dalam berkehidupan.

Mengutip apa yang pernah diucapkan Anies Baswedan bahwa “Politik menjadi kotor bukan karena politik adalah sesuatu yang terbentuk sebagai produk kotor, namun terlebih karena banyaknya orang-orang baik memilih diam, mendiamkan dan enggan masuk terlibat langsung dalam politik.” Ibarat kata berharap besar terhadap perubahan, namun enggan terlibat menjadi bagian perubahan.

Bukankah kemudian sering kita mendengarkan dalam ceramah-ceramah, bahwa setiap manusia di muka bumi ini mempunyai konsekuensi langsung sebagai khalifah sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat di dalam Alquran.

Dengan tugas khalifah yang diemban tadi, maka mustahil kiranya tidak akan bersentuhan dengan kegiatan yang disebut politik. Hal ini menjadikan politik sebagai salah satu instrumen utama yang harus menjadi kompetensi yang dikuasai seorang khalifah.

Politik pula menjadi sesuatu yang mau tidak mau diubah dari suatu kegiatan yang dicitrakan negatif menjadi sesuatu kegiatan yang mempunyai citra positif.

Usaha-usaha ini juga lazimnya tidak hanya sekadar selesai pada tataran memandang politik sebagai sebuah kebaikan, namun juga ditunjukkan dengan jalan menjadi khalifah yang mengerti dengan politik dan menjalankannya dengan kebaikan politik pula.

Sehingga politik bukan menjadi ladang untuk memperkaya diri dengan materi atau bentuk-bentuk duniawi lainnya namun menjadikan politik sebagai ladang untuk memperkaya amal sebagai jalan mencapai keridaan sang pencipta.

Untuk mencapai tingkatan politik yang ditujukan sebagai ladang amal maka setidaknya kita dapat berkaca kepada beberapa prinsip dan substansi di dalam Ramadan itu sendiri. Salah satunya adalah perihal subtansi menahan hawa dan nafsu.

Berpolitik yang baik akan sangat tahu bahwa ada batasan-batasan yang harus ditaati, salah satu contohnya menahan godaan untuk tidak menerima bujuk rayuan terhadap tindakan korupsi baik itu korupsi yang berupa materil ataupun non materil seperti waktu.

Kesalehan politik

Selain menahan hawa nafsu, Ramadan tentu mengajarkan banyak hal bagi kita tentang bagaimana menyoal kesalehan, baik itu kesalehan yang bersifat pribadi maupun kesalehan yang sifatnya adalah sosial. Adapun kesalehan itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai suatu bentuk ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah serta kesungguhan menunaikan ajaran agama, yang mana tercermin dalam perilaku kehidupan setiap pelakunya.

Kesalehan politik sangatlah tergantung dengan bagaimana keadaaan hati para pelaku politik. Kalau hati sang pemimpin baik, akan baiklah seluruh pikiran dan gerak langkah dari apa yang dipimpinnya, dalam hal ini ialah daerah yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya. Kejernihan dan kebaikan hati pemimpin yang menyejahterakan rakyatnya inilah yang harusnya ditonjolkan, bukan malah sibuk mencari panggung sebagai pengakuan atas kekuasaan yang dimilikanya.

Giliran orang baik
berpolitik

Ada baiknya kemudian banyak orang-orang baik memilih masuk dan terlibat dalam politik, entah dalam konteks terlibat sebagai aktor langsung ataupun terlibat sebagai orang yang ikut mengantarkan orang-orang baik masuk ke dalam politik. Karena dimensi kesalehan bukanlah kemudian hanya berlaku pada saat di tempat ibadah, berpuasa ataupun kegiatan agama lainnya, namun juga berlaku dalam dimensi politik.

Menjadi aktor politik yang hadir dengan kesalehan politik adalah bentuk lain dari internalisasi ajaran agama yang dapat menjadi ladang amal yang berbuah nilai kebaikan. Di sisi lain sembari kita berdoa bersama semoga ke depan siapapun pemimpin yang terpilih mampu menjadi aktor yang mengedepankan kesalehan politiknya. Sehingga tidak hanya menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, namun juga menjadi pemimpin yang dicintai oleh-Nya.

A.R. Asrari Puadi
Mahasiswa Universitas Airlangga
Penggagas halo-borneo.com


TAGS:

Berita Terbaru