Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Banggai Laut Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Kontraktor Diduga tak Mampu Selesaikan Pekerjaan Pasar Induk Lamandau Senilai Rp 2,2 Miliar

  • Oleh Hendi Nurfalah
  • 07 Januari 2021 - 06:30 WIB

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pembangunan Pasar Induk Lamandau di Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau, belum rampung. Pentauan di lokasi, pasar induk yang berada di Jalan Sudiro, Nanga Bulik itu terbagi dalam tiga bangunan gedung utama. 

Pertama, bagunan yang seyogyanya bakal diperuntukkan bagi para penjual sandang, sembako dan cafetaria. Bangunan pertama terdiri dari dua lantai. Namun, lantai dua tampak belum selesai pengerjaannya. 

Kedua, bangunan pasar rakyat yang seyogyanya bakal digunakan untuk berjualan sayur mayur dan ikan. Gedung ini tampak lebih sempurna dibanding dua bangunan lainnya. Hanya saja, pada halamannya masih banyak berserakan bekas pengerjaan proyek serta masih terdapat ilalang yang tumbuh subur.

Ketiga, bangunan ini tampak yang paling parah. Diduga, bangunan yang juga dijadikan tempat untuk jual sayur dan ikan tersebut tak selesai dikerjakan. Tampak, pasir hingga batu koral masih menumpuk di halaman gedung itu. Pengerjaan bangunan bagian depannya masih amburadul. Jangankan finishing bangunan, pintu-pintu tiap los (ruang jualan) pun tak ada. Akibatnya, hingga kini bangunan itu tak bisa dioperasionalkan.

"Ini kan ada tiga bangunan utama, yang pasar rakyat itu sudah selesai bulan dua (Februari) dari tahun 2018. Kalau yang paling depan ini memang tinggal lantai duanya. Tapi memang ini bertahap," ujar salah seorang pekerja bangunan di Pasar Induk Nanga Bulik, Fi'i, Rabu 6 Januari 2020.

Dia melanjutkan, untuk bangunan ketiga yang posisinya berada paling belakang memang tak selesai. Menurut dia, kontraktor pekerjaan untuk setiap bangunan gedung tersebut berbeda-beda. Bagunan ketiga tersebut dikerjakan oleh kontraktor asal Kalimantan Barat (Kalbar). "Iya itu memang belum selesai, silakan dicek saja ke belakang," tambahnya.

Kepala Disperindagkop Lamandau, Penyang Lanen mengatakan, sejauh ini pihaknya terus menjalin komunikasi dengan kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan pasar tersebut. Dia mengakui memang ada keterlambatan pengerjaan dari jadwal yang sebelumnya ditargetkan selesai pada akhir tahun 2020 lalu.

“Untuk bangun pasar yang di belakang (bangunan ketiga) progresnya itu baru mencapai 70,1 persen,” kata Penyang Lanen.

Adapun untuk nilai kontrak pada proyek pembangunan gedung pasar tersebut sebesar Rp1,9 Miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Sedangkan pagu anggarannya sebesar Rp2,2 miliar. 

“Dengan nilai tersebut berdasarkan perjanjian kontrak seharusnya pembangunan sudah sampai selesai, namun presentase pengerjaannya baru mancapai 70 persen. Yang jelas kami sudah berupaya berkoordinasi dengan pihak penyedia, namun pihak kontraktor telah menyampaikan bahwa hanya sampai disitu kemampuan mereka untuk mengerjakan,” pungkas Penyang.  (HENDI NURFALAH/B-5)

Berita Terbaru