Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Bukittinggi Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Pidato Perpisahan Donald Trump Tidak Sekalipun Sebut Nama Joe Biden

  • Oleh Teras.id
  • 21 Januari 2021 - 13:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden AS Donald Trump memuji warisan pemerintahannya dan mendoakan pemerintahan baru AS selama pidato perpisahan pada Selasa, tetapi tidak menyebut sekalipun nama Joe Biden.

Trump telah menolak mengakui kemenangan Joe Biden, yang memenangkan pemilu 3 November dengan 306 suara dari Electoral College dibandingkan dengan raihan 232 suara untuk Trump.

Biden akan dilantik pada Rabu pukul 12:00 siang waktu Washington, dan Trump tidak bertemu dengan Biden sebelumnya atau menghadiri sumpah jabatan seperti lazimnya presiden sebelumnya. Trump malah berencana terbang ke Florida saat hari pelantikan Joe Biden.

"Minggu ini, kami meresmikan pemerintahan baru dan berdoa untuk keberhasilannya dalam menjaga keamanan dan kemakmuran Amerika," kata Trump dalam pidatonya yang disiarkan televisi, dikutip dari Reuters, 20 Januari 2021.

"Kami menyampaikan harapan terbaik kami, dan kami juga ingin mereka beruntung - kata-kata yang sangat penting."

Trump berkampanye dengan janji untuk "Make America Great Again" tetapi meninggalkan kantor dengan lebih dari 400.000 orang tewas karena virus corona, korban jiwa paling banyak di dunia, yang sejak awal wabah ia remehkan. Trump juga berjuang untuk membangkitkan ekonomi AS dari pandemi, dan selama masa pemerintahannya membuat AS menjauh dari sekutu utamanya.

"Bahaya terbesar yang kita hadapi adalah hilangnya kepercayaan pada diri kita sendiri, hilangnya kepercayaan pada kebesaran nasional kita," kata Trump.

Selama berbulan-bulan Trump mengatakan tanpa bukti bahwa pemilu dicurangi dan menekan pejabat negara untuk membatalkan hasil pemilu. Pada unjuk rasa di dekat Gedung Putih pada 6 Januari, dia mendorong para pengikutnya untuk berunjuk rasa ke Kongres ketika anggota parlemen hendak mengesahkan kemenangan Joe Biden.

Pendukung Presiden Trump berkumpul di depan Gedung US Capitol, 6 Januari 2021. [REUTERS / Leah Millis]

Trump telah mengurung diri di Gedung Putih selama minggu-minggu terakhir masa jabatannya, terguncang setelah kerusuhan oleh para pendukungnya di Capitol yang menyebabkan lima kematian, termasuk seorang petugas Kepolisian Capitol.

Penyerbuan, yang terjadi setelah unjuk rasa di mana Trump mengulangi tuduhan palsu penipuan pemilu dan mendesak para pendukungnya untuk melawan, telah membayangi upaya apapun untuk menekankan warisan kepresidenannya di hari-hari terakhirnya menjabat.

Dewan Perwakilan Rakyat AS memakzulkan Trump dengan tuduhan penghasutan dan pemberontakan, menjadikannya presiden pertama dalam sejarah AS yang dimakzulkan dua kali. Dia juga terancam menghadapi dakwaan setelah meninggalkan kursi kepresidenan.

Dalam perpisahan hari Selasa, tanpa secara spesifik menyebutkan keputusan Twitter untuk menangguhkan akun @realDonaldTrump miliknya, Trump mengeluh kebebasan berbicara telah diberangus oleh perusahaan. Twitter mengatakan telah menangguhkan akun tersebut karena risiko memicu kekerasan lebih lanjut.

"Menutup debat bebas dan terbuka melanggar nilai-nilai inti kami dan tradisi yang paling bertahan lama," kata Trump. "Amerika bukanlah bangsa berjiwa jinak-jinak pemalu yang perlu dilindungi dan dilindungi dari mereka yang tidak setuju dengan kita."

Berita Terbaru