Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Tanjung Jabung Barat Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Populasi Buaya Sungai Kumai Ancam Keselamatan Warga

  • Oleh Danang Ristiantoro
  • 24 Februari 2021 - 23:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Populasi buaya muara di Sungai Kumai, Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi ancaman serius bagi warga yang tinggal dan beraktivitas di sana.

Pada Rabu, 24 Februari 2021, warga Kumai kembali dihebohkan dengan kemunculan buaya muara berukuran sekitar 2 meter di dekat Jembatan Pertamina Kumai.

"Kawasan tersebut kadang sepi dan ramai dengan aktivitas masyarakat. Kemunculan buaya ini berbahaya terhadap aktivitas masyarakat di sekitar sungai. Meskipun saat kepergok, kadang langsung pergi menjauh," kata Heru, warga Desa Sungai Kapitan.

Heru menduga, buaya tersebut merupakan salah satu dari anak buaya yang pernah terpantau warga di Sungai Sintuk dengan jumlah belasan ekor. Saat itu, ukuran anak buaya masih berukuran kecil sekitar 60 centimeter.

"Buaya itu panjangnya lebih dari 2 meter. Kita menduga buaya ini, termasuk yang kita tangkap beberapa waktu lalu, bagian dari anak buaya dengan jumlahnya belasan ekor. Itu pernah kita temukan di Sungai Sintuk setahun lalu," jelas Heru.

Heru yang juga salah satu anggota Komunitas Pencinta Reptil Kumai menambahkan, anak-anak buaya tersebut saat ini sudah besar dan tidak berkoloni lagi. Karena di usia dewasa, buaya menjadi hewan yang teritorial atau tidak lagi berkelompok, terlebih untuk jenis kelamin jantan.

Dia menjelaskan, wilayah teritorial buaya berjenis kelamin jantan antara satu dengan lainnya berjarak sampai 10 kilometer. Sehingga, dirasa wajar bila buaya-buaya yang berjemur di tepi Sungai Kumai berbeda-beda. Saat ini yang sering terpantau masyarakat setempat baru 3 ekor dengan ukuran yang bervariatif, antara 2 sampai 3 meter.

"Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan serangan buaya terhadap manusia di tempat buaya tersebut berjemur. Namun keberadaan buaya tersebut tetap berbahaya bagi masyarakat," pungkasnya. (DANANG)

Berita Terbaru