Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Tapanuli Selatan Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ketua DPD: Batik Antibakteri Inovasi yang Harus Dikembangkan

  • Oleh ANTARA
  • 04 Maret 2021 - 11:20 WIB

BORNEONEWS, Jakarta  - Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendukung Balai Kerajinan Besar dan Batik yang akan memproduksi massal batik antibakteri pada tahun 2021 setelah penelitian dilakukan berjalan sukses.

“Pengembangan batik antibakteri merupakan bagian dari diversifikasi produk. Hasil penelitian tersebut memiliki manfaat langsung di masyarakat, baik produsen maupun konsumen,” kata LaNyalla, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut mantan Ketua Umum PSSI itu, optimistis kain tersebut bakal mendapat tempat di masyarakat. Sebab, belakangan ini semakin tumbuh kesadaran masyarakat mengenai pentingnya aspek kesehatan diri pada setiap produk yang dimiliki.

“Kain batik antibakteri ini akan memiliki pasar tersendiri, mengingat semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan diri sendiri, termasuk saat akan memilih produk industri yang akan digunakannya," ujar alumnus Universitas Brawijaya Malang tersebut.

Di sisi lain, mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur ini meminta agar sosialisasi mengenai kegunaan kain antibakteri ini juga harus massif disampaikan kepada masyarakat. Tujuannya agar mereka mendapat informasi utuh dan menyeluruh, sehingga tak timbul informasi keliru.

"Masyarakat harus mendapat penjelasan mengenai kegunaan kain ini, khasiatnya untuk apa serta manfaat yang didapat jika menggunakan produk ini. Ini adalah inovasi yang baik yang harus terus dikembangkan," tutur Senator Dapil Jawa Timur tersebut.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Titik Purwati Widowati di Yogyakarta, Selasa (2/3) mengatakan untuk memproduksi massal batik antibakteri ini akan menggandeng perusahaan swasta.

"Kami tidak boleh produksi sendiri. Jadi nanti yang memproduksi sepenuhnya perusahaan swasta," kata

Menurut Titik, saat ini kain batik antibakteri itu masih dikembangkan dalam skala laboratorium. Dengan demikian, harganya masih terlalu mahal apabila dijual di pasaran.

Berita Terbaru