Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Badung Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

PT ABC Didenda Rp 5,9 Miliar karena Terbukti Lakukan Perusakan Kebun Sawit PT BCL

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 30 Maret 2021 - 19:00 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Majelis hakim persidangan di Pengadilan Negeri Tamiang Layang yang diketuai Deni Indrayana mengatakan, tergugat I PT Aljabri Buana Citra atau PT ABC dan tergugat II Junaidi atau Junai terbukti melakukan perbuatan melawan hukum, karena aktivitas perusakan dan penambangan di lahan sawit milik PT Bhadra Cemerlang atau PT BCL.

Hal tersebut disampaikan Deni dalam sidang lanjutan perkara perdata Nomor 28/Pdt.G/2020/PN.Tml dengan agenda pembacaan keputusan, Selasa, 29 Maret 2021.

Dia menjelaskan, tergugat II yang sebelumnya bekerja sebagai mandor afdeling O H blok 17 18 menggunakan jabatannya untuk memberi akses tergugat I melakukan perusakan tanah dan pohon sawit serta penambangan batubara di lokasi tersebut.

Aktivitas pertambangan tergugat I di lahan HGU milik PT BCL tidak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga tergugat I dan II memenuhi unsur perbuatan melawan hukum.

Karena itu, majelis hakim memutuskan mengabulkan sebagian gugatan PT BCL dengan menghukum tergugat I dan II secara tanggung renteng ganti rugi materiil sebesar Rp 5,9 miliar. Majelis hakim juga menolak gugatan ganti rugi imateriil yang diajukan PT BCL sebesar Rp 21 miliar.

Setelah membacakan keputusan, majelis hakim juga memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk menyampaikan pendapat atau sikap atas keputusan tersebut selama 14 hari.

Kuasa hukum tergugat I dan II Akhmad Junaidi, saat diwawancarai usai sidang, mengatakan tidak puas atas putusan tersebut. Namun dia terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan klien terkait langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menyikapi keputusan itu.

Sementara itu, kuasa hukum PT BCL Nazwar Samsu mengaku, dari awal persidangan meyakini obyektivitas pengadilan dalam menerima serta memutuskan perkara sesuai dengan fakta, bukti, serta saksi yang bernilai yuridis dan mempunyai kekuatan pembuktian yang valid dan akurat.

"Majelis pun akan merujuk pada undang-undang yang berlaku dalam memutuskan perkara ini sesuai dengan hukum acara, majelis memutuskan minimal dengan dua alat bukti dan satu keyakinan hakim, keyakinan inilah yang didasari oleh argumentasi hukum dan fakta hukum serta saksi yang sudah diperiksa dalam persidangan," ujar Nazwar.

Menurutnya, meski memenangkan gugatan, PT BCL tetap menjunjung tinggi musyawarah sebagai ciri khas adat ketimuran. Karena itu, pihaknya masih membuka ruang musyawarah dan ruang islah yang profesional.

Diketahui, dalam perkara yang telah berproses selama delapan bulan, PT BCL yang merupakan perusahaan perkebunan sawit mengajukan gugatan perdata terhadap tergugat I dan II dengan dugaan adanya aktivitas penambangan batubara dan perusakan tanaman sawit sebanyak 1.670 pohon.

Aktivis tersebut dilakukan pada lahan HGU seluas sekitar 12,8 hektare milik PT BCL yang menyebabkan perusahaan itu mengalami kerugian materiil dan imateriil sebesar Rp 27 miliar. (BOLE MALO/B-11)

Berita Terbaru