Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Indragiri Hulu Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

PKS Kirim Surat Terbuka Minta AS Bantu Hentikan Brutalitas Israel

  • Oleh ANTARA
  • 18 Mei 2021 - 05:00 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengirim surat terbuka kepada Presiden Amerika Serikat Joe Biden melalui Kedutaan Besar AS di Jakarta, Senin, meminta AS membantu menghentikan aksi brutal militer Israel di Palestina.

Surat terbuka itu ditulis atas nama Presiden PKS Ahmad Syaikhu dan diantar ke Kedubes AS oleh Ketua Badan Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri (BPPLN) DPP PKS Sukamta bersama Sekretaris Fraksi PKS DPR RI Ledia Hanifa.

“Dalam surat ini, Presiden PKS mengingatkan presiden Amerika Serikat jangan hanya diam dan (ia) meminta AS agar tetap berpegang pada nilai-nilai universal maupun nilai-nilai yang diyakini Amerika Serikat sendiri,” kata Sukamta.

Sukamta yang anggota Komisi I DPR RI, ikut menyesalkan sikap AS yang cenderung membiarkan militer Israel meluncurkan serangan ke Palestina. Serangan itu,  telah berlangsung kurang lebih selama satu minggu, menewaskan ratusan orang, dan menyebabkan ribuan warga sipil luka-luka.

“Kita tahu bahwa presiden AS sikapnya sangat sepihak, juga diikuti oleh perwakilan AS di Dewan Keamanan PBB yang akan memveto apa saja sanksi yang ditujukan kepada Israel. Tentu saja, ini bertolak belakang dengan semangat AS yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia," kata Sukamta menegaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Fraksi PKS DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mengatakan pihaknya akan menempuh jalur diplomasi di parlemen demi menguatkan dukungan Indonesia untuk Bangsa Palestina.

“Kami memiliki kaukus Palestina grup kerja sama bersama parlemen Palestina yang salah satu ketuanya anggota Fraksi PKS Syahrul Aldi Mazaat, [...] Kami mendorong (pemerintah) untuk lebih proaktif terhadap kasus Palestina,” kata Ledia menerangkan.

Terkait itu, di bawah ini merupakan surat terbuka yang ditulis oleh Syaikhu untuk Joe Biden:

Untuk Tuan Presiden Joe Biden,

Empat bulan sudah Anda resmi menjadi Presiden Amerika Serikat. Masih teringat, bagaimana Anda dalam kampanye menyampaikan kepada komunitas Muslim di Amerika Serikat bahwa suara Muslim Amerika penting bagi komunitas kami, bagi negara kami. Dan saat ini, kami umat Islam sedang terluka oleh tindakan brutal tentara Israel. Di saat kami sedang menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan, di saat kami sedang merayakan Idul Fitri.

Dan yang lebih melukai lagi, sikap pemerintahan Anda yang memveto dukungan 14 anggota Dewan Keamanan PBB untuk deklarasi bersama demi mengurangi ketegangan Palestina – Israel. Sikap Dewan Keamanan PBB yang sesungguhnya kami nanti-nantikan sebagai hadiah Hari Raya kami, namun negara Anda telah memvetonya seakan tidak peduli dengan nasib kemanusiaan bangsa Palestina.

Terlebih Anda tahu bahwa di antara korban serangan brutal Israel adalah warga Gaza yang hingga hari ini masih diblokade. Blokade itu sendiri sungguh merupakan tindakan yang sangat tidak manusiawi, karena menghalangi bantuan kemanusiaan internasional untuk korban kekerasan.

Dan Anda masih diam saja, bahkan membiarkan serangan brutal Israel yang diarahkan ke warga sipil di Gaza. Bukan hanya menghancurkan rumah-rumah, juga menghancurkan kantor-kantor termasuk kantor media yang semestinya dilindungi dari serangan sebagai bentuk kebebasan pers.

Tuan Presiden Joe Biden,

Israel mungkin mengatakan bahwa serangan mereka untuk membalas respon gerakan perlawanan di Palestina. Tapi Anda perlu ingat, bahwa reaksi gerakan perlawanan di Palestina karena mereka menyaksikan saudara-saudara mereka di perkampungan Sheikh Jarrah diusir, juga umat Islam yang sedang beribadah di Masjid Al Aqsha diserang oleh tentara Israel.

Anda juga perlu ingat, bahwa kota tua Al Quds (Jerussalem) yang di dalamnya ada Masjid Al Aqsha merupakan warisan budaya dunia di bawah pengawasan UNESCO. Maka semestinya negara Anda sebagai salah satu negara yang memiliki hak veto, dapat mendorong PBB untuk bisa menyelamatkan warisan budaya dunia kota tua Al Quds (Jerussalem).

Berita Terbaru