Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Metro Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Perusahaan Juga Harus Bisa Menjaga Lingkungan untuk Penuhi Kebutuhan Generasi Penerus

  • Oleh Testi Priscilla
  • 15 Juni 2021 - 14:15 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - CEO PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, Vallauthan Subraminam, mengungkapkan bahwa Pemilik perusahaan kelapa sawit SSMS, Haji Abdul Rasyid AS sangat serius mewujudkan konservasi lingkungan dengan komitmen perusahaan juga harus bisa menjaga lingkungan untuk penuhi kebutuhan generasi penerus.

"Pak Rasyid tidak ingin manajemen menjalankan roda perusahaan hanya demi meraih keuntungan. Perusahaan juga harus bisa menjaga lingkungan, untuk memenuhi kebutuhan masa depan generasi penerus," kata Vallauthan baru-baru ini melalui rilisnya.

Pria kelahiran Johor, Malaysia, 66 tahun lalu itu menjelaskan mengenai keterlibatan perseroan dalam pelestarian lingkungan.

"Itu artinya, kegiatan pelestarian lingkungan tersebut sejalan dengan visi dan misi pemilik perusahaan yang dipimpinnya sejak 2016 itu," katanya.

Vallauthan menuturkan bahwa pelestarian lingkungan itu bukan semata-mata hanya menjalankan kewajiban perusahaan secara berkelanjutan atau sustainable business, tetapi memang sudah menjadi kebijakan Abdul Rasyid selaku pemilik Citra Borneo Indah atau CBI Group dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk

Sementara itu, Corporate Communications Manager SSMS, Andre Taufan Pratama mengungkapkan, perseroan berupaya semaksimal mungkin menjadi bagian dari solusi pelestarian lingkungan.

"Program kemitraan ini bagian dari Remediation & Compensation Program (RaCP) Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang telah disetujui. Pada pelaksanaannya, SSMS menyediakan lahan hutan sebagai bentuk kompensasi yang dipersyaratkan RSPO," ujar Andre.

Pulau Salat sangat ideal untuk dijadikan konservasi alam, berupa kawasan hutan alam dan hutan terisolasi di Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, dengan luas mencapai 1.437,7 hektar (Ha) dari total izin yang dimiliki SSMS seluas ± 2.400 Ha (ditambah izin lokasi BOSF seluas 800 Ha). Andre mencatat total Orangutan yang pernah mendiami Pulau Salat mencapai 93 individu.

Sementara itu, Agus Darmanto, Asisten Manager Konservasi SSMS, menambahkan, Pulau Salat saat ini dihuni oleh 40 individu Orangutan, 10 diantaranya unreleasable atau tidak dapat dilepasliarkan dan 30 releasable. Semuanya tersebar di Pulau Badak Besar dan Badak Kecil yang merupakan bagian dari Pulau Salat. Pulau Badak Kecil khusus diperuntukkan sebagai suaka bagi Orang utan yang tidak dapat dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Sisanya, 10 individu tinggal di  Pulau Badak Kecil.

Sebagai wilayah konservasi, Pulau Salat hanya menjadi semacam kawasan untuk menempa individu orangutan sebelum siap dilepasliarkan di Taman Nasional. Hingga tahun 2021, terdapat 24 individu orangutan dari Pulau Salat dilepasliarkan ke habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Katingan, dan Hutan Lindung Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya. (TESTI PRISCILLA/B-5)

Berita Terbaru