Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Bungo Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

10 Pemuda di Barito Timur Ikuti Pendidikan Kecakapan Wirausaha Batik Tulis

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 28 Juni 2021 - 23:00 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Sebanyak 10 pemuda berusia di bawah 25 tahun dari tiga desa di Kabupaten Barito Timur mengikuti Pendidikan Kecakapan Wirausaha atau PKW selama 37 hari.

PKW merupakan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk mengatasi tingginya angka anak usia sekolah tidak sekolah (ATS), putus sekolah maupun lulus tidak melanjutkan yang berdampak pada bertambahnya kemiskinan yang selanjutnya dapat memicu munculnya permasalahan sosial.

LPK Wihellie sendiri merupakan salah satu diantaranya 142 lembaga penerima bantuan pemerintah pusat untuk menjalankan program PKW tahap I tahun 2021 dengan total peserta 2.571 orang.

Pengelola LPK Wihellie, Sofia Blantan Luhulima mengatakan, peserta PKW berasal dari Desa Bantai Napu 5 orang, Tangkan 3 orang dan Desa Bamban 2 orang. Setiap desa menjadi satu kelompok wirausaha sehingga ada 3 kelompok wirausaha yang mengikuti PKW.

"Selama pendidikan selain mereka belajar tentang batik, mereka juga akan dapat materi tentang kewirausahaan dan pemasaran online," ungkap Sofia saat diwawancarai, Senin, 28 Juni 2021.

Usai pendidikan, lanjut dia, setiap kelompok juga akan mendapatkan bekal usaha seperti, kompor gas, kain untuk membatik sepanjang 10 meter serta bahan dan peralatan membatik.

"Jadi setelah pelatihan nanti mereka langsung bisa berproduksi sehingga mereka punya modal usaha dari penjualan bahan yang diberikan," ujar wanita berusia 78 tahun yang masih bersemangat melatih calon wirausaha muda ini.

Sofia berharap, 10 pemuda yang mengikuti PKW tersebut, kelak benar-benar menjadi wirausaha batik di desanya masing-masing.

"Sesudah kami selesai melatih mereka akhir Juli, kami masih mempunyai tugas untuk membimbing mereka sebagai wirausaha sampai September 2021," jelasnya.

Meski program ini berakhir bulan September 2021, namun Sofia tetap akan membangun hubungan dengan anak-anak binaannya itu untuk membantu mencarikan pesanan batik bagi mereka.

"Kendala utama yang akan dihadapi wirausaha pemula ini nanti yaitu pemasaran karena itu dalam tahap awal kami mengarahkan untuk memproduksi taplak meja dan selendang karena harganya yang lebih murah dari baju, kami juga tetap bantu pemasaran dengan mulai mencarikan pesanan dari sekarang," ungkapnya.

Hardiano, instruktur membatik LPK Wihellie menjelaskan, selain mendapatkan teori tentang membatik, peserta akan praktik langsung cara membuat desain batik, membuat pola baju, mencanting yang bagus serta pencampuran warna dan pewarnaan.

"Sekalipun kita fokusnya ke batik tulis, nanti pada materi terakhir mereka juga akan belajar tentang batik cap," kata Hardianto.

Sedangkan pewarnaan batik tulis yang diajarkan yaitu batik colet. Yaitu, teknik pewarnaan motif dengan cara mengoleskan pewarna menggunakan kuas. (BOLE MALO/B-11)


TAGS:

Berita Terbaru