Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Sambas Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Cita-cita Tidak Sebatas di Angan-angan

  • Oleh ANTARA
  • 17 September 2021 - 11:10 WIB

BORNEONEWS, Semarang - Cita-cita masa kecil jika sampai terwujud merupakan kebahagiaan tersendiri. Namun, kebanyakan keinginan untuk menjadi dokter, tentara, polisi, dan profesi lain hanya sebatas di angan-angan.

Maklum anak-anak asal celetuk ketika ada orang lain yang menanyakan cita-cita mereka jika kelak sudah dewasa. Akan tetapi, ada pula yang berhasil menggapai cita-citanya.

Pada tahun 1970-an, satu di antara puluhan anak yang mengikuti karnaval di Kota Semarang, Jawa Tengah, tampak berpakaian beda. Dia mengenakan kemeja berdasi dan jas safari warna putih.

Di bahu kanan menggantung mirip kamera (terbuat dari bahan kayu berbalut kertas warna hitam). "Wartawan kecil" itu berjalan di antara puluhan anak yang berpakaian adat, tentara, polisi, dokter, bidan, dan lainnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), dia meneruskan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi mengambil Jurusan Jurnalistik. Sebelum lulus, tepatnya Semester V, sebuah surat kabar ternama merekrut pada tahun 1986 meski dia tidak membuat surat lamaran kerja.

Dia menyadari bahwa keinginan kuat untuk meraih cita-cita tidak sekadar kehendak di dalam pikirannya, tetapi saat menempuh pendidikan formal merupakan bagian dari proses menuju impiannya. Pria kelahiran Kota Cirebon pada tahun 1964 itu kini bekerja di sebuah media nasional ternama milik negara.

Namun, tidak semua profesi seseorang itu sesuai dengan impiannya. Bahkan, menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan. Salah jurusan bisa memicu pengangguran.

Pernyataan Irene Guntur yang disiarkan sejumlah media daring (online) pada hari Selasa (25/2/2014) dijadikan bahan oleh ahli observasi anak sekaligus penemu talents observation Andri Fajria dalam seminar yang kali pertama luring (offline) di Bursa, Turki, Kamis (16/9) malam (WIB), sejak pandemi COVID-19 melanda dunia.

Dalam seminar bertajuk Kembangkan Kekuatan, Siasati Kelemahan yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Bursa, praktisi dan santri talents mapping ini berpendapat bahwa setiap orang terlahir membawa bakat masing-masing.

Bakat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir.

Berita Terbaru