Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Dharmasraya Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Saham Asia Melemah Tertekan Kecemasan Inflasi, Dolar Naik terhadap Yen

  • Oleh ANTARA
  • 11 Oktober 2021 - 11:00 WIB

BORNEONEWS, Sydney - Saham-saham Asia tergelincir pada perdagangan Senin pagi, karena kecemasan inflasi global mendukung komoditas sebagai lindung nilai atas ekuitas AS, sementara kenaikan imbal hasil obligasi AS mengangkat dolar ke puncak dua setengah tahun terhadap yen Jepang.

Indeks berjangka Nasdaq dan S&P 500 keduanya turun sekitar 0,5 persen di awal perdagangan, karena harga minyak memperpanjang kenaikannya.

"Imbal hasil obligasi terus didorong lebih tinggi, ekspektasi inflasi meningkat dan pengetatan moneter dalam berbagai bentuk menjadi lebih umum," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

“Kekurangan chip global akan berlanjut hingga tahun depan, menambah ketidakpastian lebih lanjut pada pemulihan yang tidak merata,” kata mereka. “Ditambah kekurangan energi, dan lanskap ekonomi secara material lebih moderat daripada optimisme yang menyertai tahap awal pemulihan global.”

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen dan indeks acuan Australia melemah 0,9 persen. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang kehilangan 0,5 persen setelah anjlok 2,5 persen minggu lalu.

Musim laporan laba emiten dimulai minggu ini dan kemungkinan akan membawa cerita tentang gangguan pasokan dan kenaikan biaya-biaya. JPMorgan melaporkan pada Rabu (13/10), diikuti oleh BofA, Morgan Stanley dan Citigroup pada Kamis (14/10), dan Goldman pada Jumat (15/10).

Fokusnya juga akan pada inflasi AS dan data penjualan ritel, serta risalah pertemuan terakhir Federal Reserve yang akan mengkonfirmasi bahwa tapering November telah dibahas.

Sementara angka penggajian utama AS pada Jumat (8/10) mengecewakan, data itu sebagian karena pembukaan kembali masalah-masalah dalam pendidikan negara bagian dan lokal sementara pekerjaan sektor swasta lebih kuat.

Memang, dengan kurangnya tenaga kerja yang mendorong tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen, investor lebih khawatir tentang risiko inflasi upah dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik tajam.

Imbal hasil obligasi 10-tahun diperdagangkan naik 1,61 persen, setelah melonjak 15 basis poin minggu lalu dalam kenaikan terbesarnya sejak Maret.

Berita Terbaru