Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Teluk Bintuni Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Jangan Terlena oleh Tingkat Inflasi Rendah selama Pandemi

  • Oleh Penulis Opini
  • 26 November 2021 - 18:10 WIB

PANDEMI yang disebabkan oleh virus Corona ini jelas merupakan tragedi kemanusiaan di seluruh dunia, tak terkecuali pula di Kalimantan Tengah, dengan banyaknya nyawa hilang dan banyak lagi yang menderita penurunan tingkat kesehatan.

Tidak hanya berdampak langsung pada kesehatan, dengan fluktuasi penyebaran virus dan tingginya kasus aktif, dan berbagai langkah dan upaya pembatasan fisik, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang diambil untuk menahan laju penularan virus, tetapi Covid19 juga merupakan fenomena yang berdampak seperti kejutan ekonomi yang luar biasa besar.

Hal ini tercermin dalam perubahan besar dalam kegiatan ekonomi. Misalnya, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah yang laju pertumbuhan antar kuartalnya turun 2,01 persen pada kuartal pertama tahun 2021, meningkat sebesar 2,92 persen pada kuartal kedua dan berkontraksi lagi sebesar 0,21 persen pada kuartal ketiga.

Dinamika pertumbuhan ekonomi dan inflasi ini ibarat dua hal yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana dijelaskan dalam teori ilmu ekonomi melalui Kurva Philip. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mengakibatkan inflasi juga tinggi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang rendah akan menciptakan inflasi yang juga rendah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan juga melihat volatilitas inflasi yang cukup besar selama periode pandemi. Sepanjang tahun 2020 hingga 2021 ini dapat terlihat bahwa perkembangan inflasi sangat tergantung pada ada tidaknya kegiatan pembatasan sosial.

Melihat penurunan substansial dalam tingkat inflasi di Provinsi Kalimantan Tengah melalui dua kota acuan (Kota Palangka Raya dan Kota Sampit), yang turun ke wilayah negatif pada bulan-bulan yang diterapkan pembatasan, baik berupa PPKM dan PSBB, seperti pada bulan-bulan terakhir di tahun 2020, dan pada bulan-bulan pertama tahun 2021 serta kita alami lagi pada bulan September (0,08 persen) dan Oktober (0,90 persen) kemarin setelah pembatasan kegiatan diangkat.

Melihat melalui fluktuasi jangka pendek ini, rata-rata inflasi selama tahun pandemi sepanjang tahun 2020 dan 2021 ini berada di bawah target inflasi yang ditetapkan oleh bank sentral yaitu pada kisaran level 3 persen.

Pandemi juga melibatkan realokasi belanja konsumen di berbagai kategori. Masyarakat cenderung merealokasikan konsumsinya pada sektor pangan dan hal primer dan melakukan penghematan pada sektor sekunder dan tersier. Hal ini dapat dilihat dengan menurunnya pengeluaran untuk pariwisata, perjalanan dan perhotelan, berbeda dengan peningkatan pengeluaran untuk barang-barang yang berhubungan dengan rumah, termasuk bahan makanan dan peralatan yang dibutuhkan untuk bekerja, belajar, dan berolahraga di rumah.

Peningkatan pengeluaran terlihat pula pada kebutuhan terkait kesehatan, yaitu keperluan untuk rapid test, swab test, multivitamin guna meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak terjangkit virus COVID-19. Penurunan konsumsi untuk kegiatan tersier seperti pariwisata ini dapat terlihat dari menurunnya jumlah perjalanan serta tingkat penghunian kamar hotel di Kalimantan Tengah bila dibandingkan dengan jumlah wisatawan sebelum pandemi.

Inflasi yang rendah bisa jadi pertanda daya beli masyarakatnya yang lemah. Daya beli yang lemah jelas menjadi masalah bagi perekonomian. Pandemi corona dan PPKM menyebabkan tingkat inflasi yang rendah di Tanah Air. di masa pandemi dan pembatasan sosial saat ini, inflasi tidak menjadi ancaman. Justru inflasi diperlukan untuk menandakan terjadinya permintaan di pasar.

Berita Terbaru