Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Kebumen Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Bupati Lamandau Paparkan Menghalau Corona dengan Budaya

  • Oleh Hendi Nurfalah
  • 16 Desember 2021 - 21:31 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Bupati Lamandau Hendra Lesmana memberikan paparan materi pada rangkaian Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (AK-PWI) Hari Pers Nasional (HPN) 2022 bertempat di ruang rapat PWI Pusat, Jakarta, Kamis 16 Desember 2021.

Terpilih sebagai salah satu di antara 10 kepala daerah seluruh Indonesia peraih nomine AK-PWI, Bupati Lamnadau, Hendra Lesmana menyampaikan paparan dihadapan tim juri AK-PWI yang terdiri dari berbagai latarbelakang profesi seperti akademisi, budayawan, pelaku seni, wartawan kebudayaan, dan Katua PWI Pusat.

Dengan mengenakan pakaian adat khas dayak, Bupati Hendra Lesmana secara detail menerangkan tentang suksesnya tradisi adat Balalayah Pantang Pamali atau Tula' Bala (Tolak Bala) sebagai salahsatu upaya yang digalakkan dalam menekan penyebaran kasus Covid-19 di Kabupaten Lamandau.

Bupati Hendra menjelaskan pelaksanaan Balalayah Pantang Pamali Menghalau Corona dengan Budaya sebagai salahsatu kearifan lokal warisan budaya nenek moyang di Bumi Bahaum Bakuba yang digelar pada bulan Juli 2021 lalu dinilai telah efektif menekan tingkat penyebaran wabah Covid-19.

Melalui pelaksanaan tradisi Balalayah Pantang Pamali yang dikolaborasikan dengan penerapan protokol kesehatan, masyarakat Lamandau memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap pantang pamali atau larangan yang diberlakukan, berbeda dengan saat upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang hanya dilakukan melalui pendekatan protokol kesehatan semata.

"Saat pandemi, berbagai regulasi baik yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah terkait prokes Covid-19 berikut penegakkan sanksinya telah kita berlakukan, tetapi ternyata hal itu kurang dipatuhi masyarakat, tingkat penyebaran kasus tetap sulit dikendalikan. Namun saat kita pemerintah menggunakan pendekatan budaya, efektivitasnya penanganan pandemi sangat terasa hasilnya," katanya.

Melalui pendekatan adat, tradisi dan budaya serta pelibatan lintas sektoral termasuk insan pers yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi penanganan Covid-19, maka kepatuhan masyarakat justtu datang dengan sendirinya. 

"Tanpa paksaan, masyarakat memiliki kesadaran sendiri bahwa wabah Covid-19 harus dicegah secara bersama-sama, dan dengan cara meminimalisir pergerakan atau aktivitas, sehingga pemerintah dan lembaga adat di Lamandau menggagas Balalayah Pantang Pamali selama sepuluh hari. Satu hari tidak ada aktivitas di luar rumah secara total, dan sisanya diberlakukan pembatasan dengan pengecualian sektor esensial," kata Hendra Lesmana yang juga Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Lamandau itu.

Bupati juga menyampaikan data riil dari Satgas Covid-19 tentang adanya penurunan tingkat kasus Covid-19 dari waktu ke waktu usai Balalayah Pantang Pamali tersebut dilaksanakan. "Tak hanya itu, masyarakat juga 'terpuaskan' karena kearifan lokal merupakan "harta karun" leluhurnya terus dilestarikan," jelasnya.

Diawali balalayah pantang pamali menghalau corona dengan budaya itu pula, Pemkab Lamandau terus mengedukasi masyarakat agar pandemi tidak jadi penghambat kreativitas, namun harus diformulasikan secara tepat melalui kebiasaan baru yang diadaptasikan. 

"Sekedar informasi juga pak juri, pada tanggal 10 Desember 2021 kemarin kami juga baru saja menggelar Festival Babukung secara Virtual yang ternyata tercatat dan diapresiasi oleh lembaga MURI (Museum Rekor Dunia). Ini bentuk nyata bahwa kebiasaan baru melalui pendekatan budaya telah menuai hasil yang baik bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat di Lamandau," terangnya.

Saat sesi tanya jawab, sejumlah juri menggali informasi lain dari apa yang disampaikan Bupati Hendra. Mereka juga mengaku bangga dan banyak belajar hal baru dari apa yang dijelaskan Bupati Hendra tentang Lamandau. Seperti halnya Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari. Atal yang bertanya tentang ancaman modernisasi terhadap eksistensi kearifan lokal dijawab dengan lugas oleh Bupati Hendra.

"Kami tidak menolak modernisasi. Akan tetapi, modernisasi justru menjadi pintu dan jendela membawa budaya leluhur dapat dikenal masyarakat luas. Contoh nyata Festival Babukung secara Virtual yang baru kami gelar. Teknologi informasi di era modern ini justru membantu kami menjaga eksistensi Festival Babukung yang sudah menjadi kebanggaan Indonesia," tukasnya. (HENDI NURFALAH/B-11)

Berita Terbaru