Duhung, Senjata Dayak Dari Kayangan

  • 22 November 2015 - 21:48 WIB

SELAMA ini, mungkin masya­ra­­kat lebih mengenal mandau dan parang sebagai senjata tra­­disional yang dimiliki Suku Da­­yak. Padahal, suku yang men­­diami daerah pesisir Pulau Kalimantan ternyata me­miliki satu lagi senjata tra­di­sional, yaitu duhung (dohong).

Konon, senjata tradisional ini diyakini sebagai senjata ter­­tua Suku Dayak. Masyarakat Dayak meyakini duhung su­dah tercipta ketika manu­sia belum ada di dunia. Duhung me­rupakan senjata yang di­cip­takan oleh leluhur Suku Dayak di Alam Atas, Kaya­ngan.

Manusia pertama yang memi­li­ki duhung adalah mereka yang dipercaya sebagai leluhur Su­ku Dayak. Pada awalnya, ha­nya tiga orang yang memiliki du­hung, yaitu Raja Sangen, Raja Sa­ngiang, dan Raja Bunu.

Menurut legenda, ketiga raja ter­sebut memiliki duhung yang ber­beda. Duhung milik Raja Sa­ngen dan Raja Sangiang terbuat da­ri besi yang bisa mengapung. Se­dangkan, duhung milik Raja Bu­nu terbuat dari besi yang ti­dak bisa mengapung. Duhung je­nis ini biasa disebut sanaman le­teng.

Raja Bunu inilah yang diya­ki­ni sebagai manusia yang ber­nyawa dan bisa mati, dan diyakini sebagai salah satu lelu­hur dan nenek moyang Suku Dayak.

Senjata yang ukurannya ber­ki­sar 50-75 cm ini dahulu digu­na­kan sebagai alat berburu atau bercocok tanam. Dalam per­kembangannya, saat ini du­hung tidak lagi berfungsi se­ba­gai senjata melainkan benda pusaka yang dipajang atau di-simpan. (Indonesiakaya/B-3)


TAGS:

Berita Terbaru