Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Teluk Bintuni Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

LPEI Bantu Perajin Ekspor Peti Ramah Lingkungan

  • Oleh ANTARA
  • 15 Januari 2022 - 15:40 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI) berkolaborasi membantu perajin peti ramah lingkungan untuk bisa melakukan ekspor produknya.

Corporate Secretary LPEI Chesna F Anwar mengatakan pihaknya berkomitmen membukakan pasar yang lebih luas bagi perajin, termasuk menyediakan permodalan untuk pengembangan usaha.

"LPEI memiliki mandat dari pemerintah untuk mendorong ekspor. Jadi, kami sangat serius membantu para perajin melalui asosiasi. Kami optimis produk yang unik ini punya pasar yang sangat besar di luar negeri," ujar Chesna dalam keterangan di Jakarta, Sabtu,

Sejak 2017 pihaknya telah mendampingi para pengrajin melalui APIKRI dan mulai 2019 para perajin sudah bisa mengekspor. Ekspor perdana ke Belanda pada 2019 nilainya sekitar Rp150 juta, kemudian ekspor ke Amerika Serikat. Jika dihitung rata-rata per bulan dilakukan ekspor tiga kontainer senilai Rp450 Juta, maka dalam setahun ekspornya mencapai lebih dari Rp5 miliar.

"Ini bisnis yang prospeknya menjanjikan. Apalagi pasar luar negeri mencari produk ramah lingkungan, termasuk memikirkan persiapan ketika kelak menutup usia, maka mereka membutuhkan peti," ujar Chesna.

Salah satu perajin peti adalah Purwanto, 42 tahun mengatakan peti yang dibuatnya berasal dari bahan ramah lingkungan, mulai dari rotan, eceng gondok, mendong, rami, pelepah pisang, dan aneka bahan alam lain yang ramah lingkungan, yang disebutnya green coffin.

Produk seperti itu diminati pasar Eropa hingga Amerika Serikat, negara-negara yang kesadaran terhadap lingkungannya relatif sudah tinggi. Kayu-kayu sebagai rangka penguat peti menggunakan kayu yang sudah memiliki sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu), sebagai syarat untuk bisa masuk ke pasar Eropa.

Dari bisnis tersebut, Purwanto bisa mempekerjakan kurang lebih 100 orang di pabriknya yang berlokasi di Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Usahanya yang bernama Eco Green, punya pasar tetap di Eropa dan Amerika Serikat.

"Saya memulai bisnis ini pada tahun 2002. Permintaannya terus naik dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kami mendapat pendampingan dan pembinaan, juga dibantu mencari pasar dan permodalan" ujar Purwanto.

Melalui APIKRI, asosiasi di mana Purwanto bergabung, tiap bulan setidaknya tiga kontainer berisi peti mati dikirim ke luar negeri. Tiap kontainer bisa memuat 80 peti, sehingga tiap bulan setidaknya terjual 240 buah peti.

Berita Terbaru