Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Sleman Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Kisah Bantoni Temukan Peluang Budidaya Sayuran Karena Pandemi, Kebunnya jadi Tempat Berfoto

  • Oleh Agustinus Bole Malo
  • 24 Februari 2022 - 06:50 WIB

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Beberapa jenis tanaman sayuran yang tumbuh di lahan seluas kira-kira 0,5 hektare membuat udara semakin terasa sejuk sore tadi saat Borneonews menemui Bantoni (35) yang sedang membuat bedeng di kebun sayuran yang terletak di samping dan belakang rumahnya di RT  02 Desa Haringen Kabupaten Barito Timur.

Sepertinya tanah di sekitar situ memang cocok untuk bertanam sayuran karena gembur. Untuk menambah kesuburan tanah, Bantoni juga memanfaatkan pupuk kandang dari peternakan ayam yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Di kebun itu dia menanam, ketimun, kacang panjang, pare, gambas, terong dan seledri. Bantoni saat ini juga mencoba mengembangkan jagung ketan hitam meski tidak banyak.

"Saya mulai tanam sayur waktu awal (pandemi) covid-19, jadi sudah 2 tahun, saat itu orang rame-rame berkebun karena pemerintah suruh di rumah saja," ungkapnya mengisahkan awal mula menanam sayuran.

Menurut Bantoni yang saat ini dibantu oleh istri dan ibunya dalam merawat tanaman, kala itu dirinya juga hanya ikut-ikutan membuat kebun sayuran karena pandemi. Namun saat pandemi agak mereda dan orang lain mulai bosan, dia justru melihat ini sebagai peluang usaha untuk dikembangkan.

Pria yang berlatar belakang sekolah pertanian dan pernah menjadi penyuluh pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur ini mengaku awalnya hanya menanam 2 bedeng ketimun.

Posisi rumah dan kebunnya yang berada di pinggir jalan beraspal dan hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kota Tamiang Layang membuat mudah didatangi. Apalagi lewat postingan di media sosial saat ini banyak masyarakat yang sudah mengetahui sehingga bisa datang langsung membeli sayur di kebunnya.

"Keuntungan yang saya dapat tidak besar tapi saya senang mengembangkan ini kerena usaha sendiri. Saya juga terbantu dengan orang  yang beli langsung disini sekalipun selisih harga dengan pengepul tidak banyak," kata pria yang memiliki 2 orang anak ini merendah.

Kini dia menjadikan budidaya tanaman sayuran sebagai pekerjaan utama sambil menerima borongan angkut sebagai sopir di perusahaan tambang batubara demi mencari tambahan modal usaha.

"Paling tidak dari budidaya sayuran ini saya bisa menggaji diri sendiri dan tidak diatur-atur orang. Kalau kerja ikut orang kan kita tidak bebas berkreasi," tambahnya.

Meski demikian usaha ini bukan tanpa tantangan. Bantoni sering harus mengikuti harga yang ditentukan oleh pengepul karena merekalah yang membeli hasil panen dalam jumlah yang banyak dan rutin.

"Kendala lain yang saya hadapi yaitu masalah air. Kalau musim kemarau saya kesulitan air karena untuk menyiram tanaman berasal dari sumur yang juga dipakai untuk kebutuhan rumah," ungkap Bantoni.

Berita Terbaru