Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Banggai Laut Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

B20 Dorong Kerja Sama Publik-Swasta dalam Transisi Energi

  • Oleh ANTARA
  • 21 Mei 2022 - 19:30 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Forum G20 Business 20 (B20) 2022 mendorong kolaborasi publik dan swasta untuk melaksanakan program transisi energi guna mengurangi emisi dan mencegah kenaikan suhu bumi lebih dari 1,5 derajat Celcius.

B20 merupakan outreach group G20 yang mewakili komunitas bisnis internasional sebagai salah satu aktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Saat ini, Indonesia adalah ketua G20 B20 2022.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid menyatakan pelaksanaan program transisi energi merupakan tantangan besar karena membutuhkan dana yang besar. Misalnya, Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$25 miliar (Rp370,1 triliun) per tahun untuk melaksanakan program tersebut.

“Meski menantang, transisi energi juga membuka banyak peluang dan menggali banyak potensi. Kolaborasi pemain publik dan swasta menjadi kunci (optimal) memfasilitasi (perkembangan) ekonomi global,” ujarnya dalam seminar nasional bertajuk “Energi, Keberlanjutan , dan Satuan Tugas Iklim" pada hari Jumat.

Rasjid mencatat bahwa Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung inisiatif mitigasi perubahan iklim global, seperti dengan merealisasikan penggunaan energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 serta mencapai net-zero emisi pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Indonesia memiliki berbagai potensi sumber energi terbarukan yang sangat besar, antara lain energi surya, tenaga air, panas bumi, dan angin, yang dapat dikembangkan di seluruh pelosok negeri.

“Oleh karena itu, melalui B20 2022, Indonesia siap memfasilitasi berbagai kolaborasi dan kemitraan untuk mewujudkan transisi energi hijaunya,” kata Ketua Kadin.

Indonesia juga berharap dapat bekerja sama dengan berbagai pemain global yang siap melaksanakan program transisi hijau, Termasuk investor dan pengembang proyek, katanya.Selain

itu, dia mencatat pemberian insentif oleh pemerintah diperlukan untuk mendorong transisi energi bersih, seperti insentif penelitian dan pengembangan, dukungan fiskal dan pajak, serta insentif tarif

Bahwa perlu adanya insentif untuk menurunkan tarif pemanfaatan energi terbarukan agar lebih murah sehingga dapat bersaing secara biaya dengan energi fosil dari segi tarif.

Sehingga dapat menciptakan pasar transisi energi yang menarik bagi para investor, tambahnya.

ANTARA

Berita Terbaru