Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Sumenep Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Petani Kelapa Sawit di Pulang Pisau Harapkan Pulihkan Harga TBS

  • Oleh Asprianta
  • 08 Juni 2022 - 16:00 WIB

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Sempat adanya kebijakan pelarangan ekspor minyak sawit mentah atau CPO sejak akhir April lalu berdampak pada anjloknya harga tandan buah segar kelapa (TBS) sawit. Turunnya harga jual ini membuat petani sawit di daerah merugi karena harga jual tidak dapat menutupi biaya pemeliharaan kebun sawit termasuk di Kabupaten Pulang Pisau.

Sejumlah pengepul buah sawit di Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulpis juga merasakan dampaknya di mana saat ini pihaknya mulai sulit mendapatkan sawit dari petani.

"Hal ini terjadi imbas dari turunnya harga jual TBS sawit sejak pemerintah memberlakukan kebijakan larangan ekspor minyak sawit mentah atau CPO. Harga TBS kelapa sawit menurun drastis sejak akhir April lalu. Hal ini membuat para petani merugi karena harga jual tidak menutupi biaya produksiproduksi," ucap Munung, pengepul sawit di Pulpis, Rabu, 8 Juni 2022.

Dampak pelarangan ekspor minyak sawit mentah CPO juga dirasakan petani sawit di kecamatan Maliku dan Pandih Batu, Pulpis. Para petani mengalami kerugian besar imbas anjloknya harga TBS kelapa sawit.

Harga tandan buah segar kelapa sawit kini berkisar Rp1.720, sebelumnya dapat mencapai Rp3.450. Harga jual yang menurun drastis ini membuat petani sawit mengalami kerugian besar dalam biaya pemeliharaan kebun sawit.

Para petani sawit berharap agar harga jual tandan buah segar kelapa sawit dapat kembali normal.

"Kami meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengembalikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sesuai dengan yang telah ditetapkan Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng. Permintaan atau harapan ini tentunya tidak hanya dari petani kelapa sawit di Kabupaten Pulang Pisau tapi petani kelapa sawit di Indonesia akibat permasalah ini," ucap Candra salah satu petani sawit di Kecamatan Pandih Batu, Pulpis. 

Hal senada diungkapkan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Pulang Pisau Diharyo. Menurutnya semenjak larangan ekspor diberlakukan dan anjloknya harga TBS banyak petani kelapa sawit di Pulpis yang mengalami kerugian.

Hal ini akibat dari mahalnya harga pupuk dan biaya perawatan serta biaya panen dan nilai jual tidak dapat menutupinya, maka tidak menutup kemungkinan akan menjual kebun kelapa sawit nya dan beralih profesi.

"Padahal saat dunia saat ini kekurangan minyak nabati dan Indonesia sebagai pemilik kebun kelapa sawit terbesar punya tanggung jawab memenuhi permintaan sebagai bagian dari masyarakat internasional yang beradab," ungkapnya. 

Oleh kerena itu pihaknya berharap Pemerintah dapat mengatur secara ketat pemenuhan kebutuhan minyak goreng di dalam negeri serta menindak tegas pada perusahaan yang bermain-main dengan kebutuhan rakyat.

Berita Terbaru