Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Bandar Lampung Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Harga Sawit Semakin Anjok, Petani Sawit Bingung Bayar Angsuran Pinjaman Bank

  • Oleh Wahyu Krida
  • 29 Juni 2022 - 22:11 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit belakangan ini membuat resah para petani sawit yang membudidayakan tanaman tersebut dengan modal mandiri.

Pasalnya dengan harga TBS yang hari ini mencapai Rp 400 per kilo gram, tentunya tmereka tidak bisa mendapatkan keuntungan dari hasil kebunnya.

Seperti yang disampaikan Wira, petani sawit mandiri yang menaman tanaman tersebut di kebunnya seluas 5 hektar yang berlokasi di Desa Tanjung Terantang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu, 29 Juni 2022.

Wira menceritakan keluhannya lantaran anjloknya harga TBS yang dialaminya bersama para petani sawit lainnya di Indonesia.

Menurut Wira, dengan anjloknya harga TBS, mayoritas petani sawit masyarakat terancam tidak bisa membayar angsuran pinjaman bank.

"Karena untuk biaya operasional perawatan kebun, saya berani memastikan sebagian besar menggunakan dana hasil pinjaman dari bank," ujarnya.

Wira kemudian memaparkan pendapatan yang dihasilkannya saat anjoknya harga TBS belakangan ini.

"Sebagai gambaran kemarin saya menjual Rp 500 per kilogram dan mendapatkan hasil Rp 500.000 dari penjualan TBS sebanyak 1 ton. Namun jumlah tersebut harus dipotong dengan upah pemanen Rp 300.000 dan ongkos angkut sekitar Rp 50.000. Sehingga saya hanya mendapatkan uang Rp 150.000 dari penjualan 1 ton TBS," ujar Wira dengan nada miris.

Padahal untuk mendapatkan buah sawit yang bagus tentunya tanaman tersebut harus diberikan pupuk yang baik.

"Ironisnya saat harga buah sawit saat ini sedang anjlok, harga pupuk malah mahal. Gambarannya pupuk KCL bisa saya dapatkan seharga Rp 1.000.000 per karung. Kemudian untuk pupuk NPK paling murah sekitar Rp 250.000, itupun kualitasnya abal-abal," jelasnya.

Intinya, lanjut Wira, bila kondisi seperti ini terus terjadi hingga beberapa bulan kedepan bisa dipastikan banyak warga yang membudidayakan tanaman sawit secara mandiri bertumbangan.

"Lha, gimana kami sebagai petani bisa hidup bila kondisinya seperti ini. Biaya operasional tinggi, namun harga jual sawit sangat murah. Padahal harga minyak sawit di pasaran dunia saat ini sedang bagus-bagusnya. Tetapi hasil sawit masyarakat tidak bisa tertampung oleh perusahaan lantaran stok CPO perusahaan sedang full. Lantaran mereka tidak berani jual keluar negeri, akibat kebijakan pajak ekspor yang diberlakukan oleh pemerintah pada eksportir sangat mencekik. Tentunya kami masyarakat petani sawit skala kecil juga yang menderita akibat kebijakan yang diberlakukan pemerintah tersebut," jelas Wira. (WAHYU KRIDA/B-11)

Berita Terbaru