Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Musirawas Utara Pilkada Serentak 2024

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Wayan Supadno: Nasib Petani Sawit Swadaya Menggenaskan, Berbanding Terbalik dengan yang Dirasakan di Indonesia

  • Oleh Wahyu Krida
  • 30 Juni 2022 - 01:41 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Walau saat ini harga CPO di pasar internasional mencapai Rp 21.000 per kilo gram, namun hal tersebut tidak membuat petani sawit di Indonesia bergembira.

Karena saat petani sawit di negara lain mendapatkan kegembiraan dari naiknya harga produk turunan sawit yang berimbas pada naiknya harga tandan buah segar (TBS) yang dibeli ditingkat petani, hal ini berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh warga petani sawit di Indonesia.

Demikian disampaikan Wayan Supadno, salah seorang petani yang membudidayakan tanaman sawit secara swadaya di Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu 29 Juni 2022.

"Gambarannya harga CPO saat ini di pasar internasional Rp 21.000/kg, di Malaysia Rp 16.000/kg dan di Indonesia hanya ditawarkan Rp 10.000/kg di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tidak sukses lelangnya. Karena permintaannya hanya Rp 8.000-an/kg. Setara harga TBS di PKS Rp 1.600/kg," jelas Wayan Supadno yang juga sebagai Anggota Dewan Pakar Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo).

Wayan Supadno menjelaskan berdasarkan informasi yang diterimanya dari Ketua Umum Apkasindo, Gulat Manurung sebanyak 58 tempat sudah menutup pabrik kelapa sawit (PKS).

"Jumlah tersebut setara melayani luas kebun sawit petani 650.000 ha tanpa pasarnya, dibiarkan busuk di pohon," jelasnya.

Hal ini terjadi karena mutlak salahnya pemerintah yang membuat kebijakan yang tidak berpihak ke petani, sebagai bagian dari produsen minyak goreng. 

"Padahal bila mengutip apa yang disampaikam oleh Bung Karno di IPB tahun 1952, Tanpa petani, maka tanpa pangan. Pangan soal hidup matinya sebuah bangsa," jelasnya.

Dia mengatakan hal yang menimpa para petani dan pengusaha sawit di Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh petani dan pengusaha sawit Malaysia.

"Karena saat ini, yang jadi pengusaha sawit di Malaysia telah jadi investor di Indonesia. Mereka menjadi pemilik kebun sawit dan PKS skala luas di banyak daerah di negara kita autau yang biasa disebut sebagai Penanaman Modal Asing (PMA)," jelasnya.

Kemudian para pejabat pemerintahan di Malaysia juga sangat melindungi petani sawit mereka.

"Sehingga saat ini harga TBS di Malaysia berkisar antara Rp 4.000 - Rp 5.000/kg dan harga CPO Rp 16.000/kg. Karena para pejabat di Malaysia, menyadari dan mempraktekkan ilmu yang didapatkan saat mereka dulu belajar di Indonesia," jelasnya. 

Selain itu karena iklim usaha dibuat baik, maka jumlah pengusahanya banyak.  "Pendapatan per kapita Malaysia jauh di atas kita. Lowongan kerja banyak, bahkan mereka sampai impor pekerja dari Indonesia," jelasnya.

Wayan mengatakan kebijakan untuk menyetop ekspor sawit yang dilakukan Indonesia beberapa waktu lalu juga sempat di kritik oleh Malaysia dan Singapura.

"Ironisnya kita malah mengalami rugi. Pada bulan Mei 2022 kita mengalami kerugian sekitar Rp 30 triliun lebih. Namun Malaysia malah dapat devisa berlimpah. Hal tersebut terjadi lantaran pajak ekspor CPO Malaysia dimininalkan sehingga para pengusaha dan petani sawit disana semakin bergairah," jelasnya.

Tetapi, menurut Wayan Supadno, saat ini pajak pungutan ekspor CPO di Indonesia " dimaksimalkan hingga 50 persen.

"Sehingga dari harga CPO Rp 21.000/kg, akinat pajak tersebut tinggal Rp 9.500/kg. Dampaknya para petani sawit menjadi korban. Bukan itu saja, akibat kebijakan pemerintah tersebut, pelanggan negara tujuan ekspor sawit Indonesia banyak dikuasai oleh Malaysia. Padahal dulunya produk sawit negara jiran tersebut sangat sulit ketika coba melakukan penetrasi pasar," jelasnya.

Menurutnya walau beberapa bulan lalu harga sawit petani Indonesia Rp 3.800/kg, namun dari informasi yang didapatkannya dari petani, harga TBS terjun bebas mencapai Rp 400 hingga Rp 500/kg.

"Bahkan, saat ini harganya semakin turun, sehingga banyak buah sawit yang busuk di pohon karena PKS ditutup. Saya sebagai salah seorang petani sawit mandiri, berharap semoga nasib sawit kita tidak seperti tragedi komoditi cengkeh bertahun-tahun lalu yang ludes seketika dan menjadi sejarah kelam pada zaman pemerintahan Pak Harto. Karena tanaman sawit saat ini menjadi lapangan kerja bagi lebih dari 17 juta kepala keluarga. Terus terang, apa yang terjadi pada bisnis sawit yang kita alami saat ini membuat kita malu dengan Malaysia yang nota bene mereka pernah belajar berbagai hal dalam pembudidayaan dan perdagangan sawit di Indonesia," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-6)

Berita Terbaru