Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Karimun Pilkada Serentak 2024

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Deklarasi G20 dan Penegasan Politik Luar Negeri RI Bebas Aktif

  • Oleh ANTARA
  • 18 November 2022 - 12:20 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Keketuaan Indonesia dalam Kelompok 20 negara besar di dunia telah berakhir begitu Presiden Joko Widodo menutup Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nusa Dua, Bali, pada 16 November dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan G20 kepada India.

Deklarasi G20 di Nusa Dua itu mengeluarkan 52 poin rekomendasi dan komitmen, mulai dari penguatan multilateralisme dalam kerja sama ekonomi global sampai arsitektur keuangan dan kesehatan global.

Dari transformasi digital sampai langkah-langkah menghadapi perubahan iklim. Dari upaya menciptakan ketahanan pangan dan energi, hingga tekad membumikan Pandemic Fund dan bantuan untuk negara miskin.

Selama mengetuai G20, Indonesia bersandar kepada upaya memperkuat lingkungan kemitraan, mendorong produktivitas, meningkatkan ketahanan dan stabilitas, memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif, serta kepemimpinan kolektif global yang lebih kuat.

Kelima pilar itu menyemangati poin-poin dalam Deklarasi G20 pada 2022.

Padahal sulit dimungkiri masa Indonesia memimpin G20 adalah momen yang sangat menantang yang mungkin ingin dihindari siapa pun.

Bukan saja karena dunia menghadapi situasi-situasi akibat dampak pandemi COVID-19, termasuk krisis rantai pasokan dan gelombang inflasi, yang semuanya membutuhkan kepemimpinan global yang kuat.

Juga karena letusan perang di Ukraina yang nyaris mengalihkan perhatian G20 dari khitahnya.

Namun Indonesia mampu membuat peta jalan dan rekomendasi untuk aksi global dalam menangkal krisis sekaligus bagaimana dunia seharusnya menangkap peluang-peluang saat ini dan nanti yang bisa mendorong pertumbuhan dan kemakmuran global.

Perang di Ukraina membuat Indonesia menjadi ketua yang berusaha keras mendudukkan G20 tetap sebagai forum untuk kerja sama ekonomi.

Indonesia telah mengatasi tantangan itu yang sekaligus telah dengan baik pula mewujudkan amanat nasionalnya menjalankan politik luar negeri bebas aktif.


Tak mau "terlalu politik"

Dalam poin ketiga Deklarasi G20 2022 terdapat pernyataan yang eksplisit menyebut Rusia dan Ukraina, serta perang di Ukraina dan bagaimana sikap G20 menyangkut konflik itu.

Ada pengakuan bahwa kebanyakan negara G20 mengecam perang di Ukraina yang menandaskan bahwa perang di negara itu telah menciptakan tragedi kemanusiaan dan kian membuat rapuh perekonomian global, menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, merusak rantai pasokan, membuat ketahanan energi dan pangan semakin terancam, serta mengancam stabilitas keuangan.

Akan tetapi deklarasi itu juga menekankan adanya penafsiran berbeda mengenai situasi di Ukraina dan sanksi yang berkaitan dengan perang di sana.

Ini bukti upaya Indonesia dalam mendudukkan G20 sebagai forum yang tak diabdikan untuk mengatasi isu-isu keamanan. Indonesia berusaha untuk tidak "terlalu politik" dalam sebuah forum ekonomi seperti G20.

Berita Terbaru